Pulang pada rindu.

tetiba, aku ingin pulang.

menuju pada ‘pulang’ yang sepenuh hati menyambut dan memberi ruang. bukan pada tempat yang berumah atau bertinggal. Hanya ingin memulangkan pada sebuah rindu.

ku ingat sebuah rindu yang mendamba pulang.

ketika ia panggul beban rindu dalam karung-karung. Terkumpul karena jarak dan waktu, dalam hitungan tak terhingga. Setiap teringat hanya mengucap, “aku ingin pulang, aku rindu.”

karena terkadang pulang ku bukan hanya karena rindu tapi lebih kepada kamu, yang membuat semua rindu menjadi satu dan tanpa ragu. Menjadi satu titik yang dituju kala berucap rindu, menuju mu.

Tunggulah, di satu waktu…

kita akan pulang pada satu rindu yang sama, bukan tempat bukan rumah atau bahkan tujuan. Hanya pada rindu itu sendiri kita akan pulang.

[Repost from: http://greenkerolina.tumblr.com]

Advertisements

SkakMat!

“Kalau tidak dibalas ya berarti tidak dibalas. No particular reason behind.”

gitu kata teman pas ditanya soal pesan WA di-read doang tanpa dibales. Katanya, itu jawaban biar lu gak mikir jauh-jauh ampe kemana-mana.

termasuk pas saya nerima WA nya dia soal event di Jogja yang kudunya malam ini tampil. Dia nya gak di Jogja, jauh sono lah.

Dia (D): tuh, dateng sana.

Saya (S): sama siapeeee….

D: tunggal putri lah.

S: Dih, dikata main badminton. Mendingan ganda campuran lah.

D: yaelah.

S: palingan kalo km di Jogja, gak bakalan ngajak-ajak. ya kan?

D: …. *ilang sinyal kayanya*

⊗ Asal kamu tahu, saya belajar gimana caranya tidak berharap pada hal yang tidak pernah bisa saya perkirakan jadinya nanti seperti apa, darimu. Karena kamu menjadikan hal-hal yang biasa itu menjadi begitu luar biasanya sehingga pada akhirnya saya harus mengakui kalau kamu tidak ‘biasa’. Disitulah kesalahan dimulai. Tidak seharusnya kamu menempati posisi semacam ini karena saya pada akhirnya berharap. Itu keliru dan kekeliruan ini lebih keliru karena dijaga sedemikian rupa sampai pada titik dimana saya ini tidak diperdulikan sama sekali.

parahnya lagi, saya butuh waktu lama untuk menyadari itu.

 

Dari buku terakhir yang ku baca.

kapan kah terakhir kali saya membaca sebuah buku hingga selesai? Lebih dari tiga bulan yang lalu.

Berapa banyak buku yang tidak selesai saya baca dan ditinggalkan begitu saja? ada 7 buku. Kenapa?

Well, pelegalan saya selama ini cuma ‘ceritanya kok gak page turner nih…’ so i stop and left. Padahal aslinya saya udah ga tekun lagi bersabar membaca dengan sepenuh perhatian. 😀

Salah satu hal yang bisa saya lakukan adalah menghentikannya dan mengerjakan hal lain. Bahkan novel paling ringan sekali pun gak berhasil saya selesaikan dalam sehari. Padahal biasanya bisa, bahkan sambil bergantian dengan buku lain. Mbuh, rasanya lagi bosan saja. Sampai ganti buku berkali-kali pun ujungnya senasib; gak rampung.

Saya pilih menjauhkan diri dari segala urusan yang berbau buku, bahkan membicarakan nya saja males. I don’t have any intention to talk about it. Lebih milih obrolan ringan aja soal buku ini itu tanpa membahas panjang lebar kali tinggi. Meskipun yah beberapa waktu. Ke toko buku aja sedang ogah, walopun beberapa kali lewat dan pengen berkunjung.

Yah walopun kemarin ini sempet beberapa kali nongkrongin bazaar buku & jongkok numpang baca disitu, tapi gak pengen beli. Ya udah liat-liat aja. Mungkin saya nya lagi jenuh atau bosan. Even duduk di ruang buku di depan lemari buku di rumah pun gak membangkitkan selera membaca. Sudah nyoba baca buku anak-anak yang berwarna-warni pun gak terbit juga keinginan baca yang selama ini menggebu.

Ada sih yang diajak ngobrol soal buku, beberapa teman juga masih kadang ngobrolin buku A atau novel B, tapi ya sudah disitu aja. Saya gak melanjutkan obrolan itu lebih panjang atau membahas perihal buku lebih lanjut. Mbuh, obrolan nya selalu ganti mendadak ke panganan dan sejawatnya. 😀

Saya kemudian menyadari satu hal soal kebosanan yang melanda; semua excitement yang menggebu itu pada satu waktu akan menemui titik puncak lalu perlahan menghilang. Dan mungkin tidak cuma kali ini, akan ada kali-kali lain yang datang ketika tidak ada lagi alasan untuk menjaga nyala api sebuah rasa minat & ketertarikan. Dan kadang ini berlaku gak cuma untuk barang atau hobi tapi juga ke orang. Logika sederhana-nya, hal yang kehilangan makna memang biasanya tak lagi menarik minat bahkan cenderung jadi hal biasa.

Kepikiran, gimana kalo suatu saat udah gada obrolan soal buku lagi? 😐

Sure, there’s a hope.

How many tears you waste for something that didn’t you know for sure?

Sama sia-sia nya dengan menantikan hal yang kita tidak pernah tahu pastinya. Hanya saja beberapa orang memilih untuk tidak tahu hanya karena mereka berharap pada hal-hal ‘mengejutkan’ dibaliknya. Kita tidak pernah diberi tahu apa yang ada dibaliknya, selebihnya hanya menduga sendiri. Betapa membosankan hal itu. Betapa tidak menyenangkan hal ini.

Tapi apa yang membuat kita bertahan? Apa yang membuat kita tetap melakukan hal yang tidak pasti ini?

Harapan.

Ya, kita selalu punya harapan pada sesuatu atau seseorang yang kadang kita tidak pahami kenapa kita berharap padanya. Kadang hanya berbekal keyakinan bahwa hal ini atau seseorang ini akan bawa hal baik bagi kita nantinya. Padahal tak ada yang menjamin. Tak satu pun yang bisa menjamin apakah itu benar adanya atau tidak. Kita hanya yakin dan percaya saja bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang meyakini dan mempercayai.

Well, terdengar bodoh ya namun itu benar adanya. Diakui atau tidak, kita sering megalaminya meskipun kita berdalih apa yang kita alami ini berbeda. Namun pada akhirnya sama saja, kita pun tidak pernah tahu kenapa dan mengapa kita begitu meyakini hal yang kita sendiri belum pernah tahu apakah berujung baik atau buruk. Kadang kita hanya berbekal doa, meyakini bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan hal buruk jika kita selalu menjaga hal baik di sekitar kita. Well, Tuhan pun tidak menjanjikan apapun ke umatnya, Dia tidak terikat janji bahkan hutang kepada siapapun. Dia pun tidak menjamin kepada kita 100% hanya membuat kita yakin dan percaya pada hal yang sebenarnya hanya kita ciptakan sendiri.

Nyatanya apa yang kita harapkan tidak selalu terwujud, Tuhan pun tidak selalu mengabulkan hal yang kita minta meskipun segala persyaratannya telah kita penuhi. Sekali lagi, Dia tak berjanji pada siapapun, pun tak berhutang pada siapapun. UmatNya lah yang menjanjikan hal-hal itu pada dirinya sendiri. Dia pun bebas syarat. Tidak pernah Dia meminta ini itu pada kita, hanya Dia yang tahu betul apa bagaimana seluruhnya berjalan. Kita hanya menduga-duga saja, meyakini dan mempercayai hal yang sekiranya membut kita tetap teguh berharap, membuatkita sendiri terus berjalan dan tidak berhenti mengusahakan. Begitu usaha kita membuahkan hasil, itu tidak lain karena usaha kita sendiri. Tuhan hanya memberikan mu kesempatan lebih untuk dirimu sendiri mengukur sendiri, menerka sendiri serta mewujudkan sendiri harapan mu. Ia tak pernah menjanjikan apapun, pun tak berhutang apapun pada siapapun.

Anger into zero.

ada saatnya amarah membakar mu, namun tak meninggalkan apapun kecuali kekosongan.

ada saatnya amarah menghancurkan mu, namun tak meninggalkan apapun selain penyesalan.

kira-kira keduanya pernah mengalami, sebagai seseorang yang mencintai dan dicintai.

kekosongan yang membuat rasa ada yang hilang, berkurang, berlubang di dalam sana. Seperti halnya sebuah perpisahan dan kemudian dilupakan. Nampak ada yang dicabut paksa dari dalam diri, dan terjadi berulang kali. Sakit? yah, bisa dikira-kira sendiri lah…

Penyesalan yang membuat rasa ingin mengulang waktu barang sejenak tepat sebelum semuanya terjadi, mirip-mirip di film ‘About Time’-nya Rachel mcAddams. Hanya untuk memastikan semuanya berjalan sedikit lebih baik. Tapi yah, agak tidak mungkin. Menyesali segala kata dan perbuatan yang sudah terjadi, seandainya kemarin tidak begini, tidak begitu. Bisakah? Yah, membayangkan saja sudah sulit…

Pada akhirnya memilih untuk berdamai dengan amarah itu. Meredakan dengan memeluk diri sendiri, ketika hasrat terbesar adalah memeluk tubuhnya sembari bersandar di punggungnya dan menghirup aroma tubuhnya yang begitu mencandui. Menekan ego dengan menggenggam tangan sendiri, ketika rasa genggaman tangannya masih begitu mantap dan yakin terasa erat di telapak.

Menghindarinya? Oh, itu bukan cara yang bijak menyelesaikan persoalan amarah ini. Hanya saja harus mati-matian mengendalikan emosi yang meluap-luap kala dia berada disekitar. Itu luar biasa sulit dan menyakitkan. Ya, menyakitkan. itu lah rasa yang paling dominan dirasakan ketika bertemu dengannya, sesuatu yang harus dihadapi. Pada akhirnya ia nampak seperti seseorang yang pernah dikenal, meski nampak aneh karena sama-sama menahan sesuatu yang hanya kami yang tahu. Tidak bisa berpandangan terlalu lama, berbicara terlalu lama, bahkan sekedar senyum pun rasanya berat.

Berkali-kali mengirim pesan singkat dengan isi pesan yang selalu berujung sama;

“i miss you…”

“are you miss me that much?”

“what should i can say if its like what it was?”

‘Me either… miss you much’

Seakan tak ada pesan lain yang bisa diketik, tak ada hal lain yang bisa dibahas. Pesan-pesan yang terkirim di beberapa malam ketika kami memilih untuk menghabiskan waktu kami masing-masing. Menghindari gejolak perasaan yang terlalu meluap-luap, yang bisa membahayakan diri kami. Menyurutkan amarah yang kadang meletup hanya karena sebaik-dua bait kalimat yang terselip dalam percakapan dan salah diterima. Berlalu dengan emosi yang mengerikan hingga kami saling membenci berbulan-bulan lamanya. Akhirnya memilih melupakan nya, menganggap ia tak lagi penting dan mengenyahkan ia dari pikiran se-segera mungkin. Di saat yang bersamaan, ia berkali-kali mencari, menanyakan, penasaran; apakah sehat, baik-baik saja, sedang sibuk apa, pergi kemana, apakah menanyakan dia. Pertanyaan yang tak pernah terdengar langsung terucap dari mulutnya, bentuk perhatiannya yang tak pernah ditemukan selama ini, rasa kehilangan yang dia alami atas keberadaan diri, semua muncul dengan jelas. Jelas bahwa ia tak pernah begitu kehilangan dan menyesal se-parah ini, begitu pula pada akhirnya.

Akhirnya harus menyerah pada keadaan, menyerah pada rasa kehilangan dan kekosongan yang makin hari makin parah, meruntuhkan tembok pertahanan bahwa ia bukan lagi hal penting dalam hidup ini, membiarkan air mata terbuang percuma hanya untuk meredakan letupan perasaan terhadap keberadaannya yang begitu dirindukan.

Pada akhirnya, merasa kosong.

Pada akhirnya, menyesal.

Pada akhirnya, kami tidak pernah saling mengatakan apa yang kami rasakan.

{reposted from: http://greenkerolina.tumblr.com/}

Ide Anshi

inspirasi datang dari mana saja.

para seniman maupun sastrawan mengatakan bahwa kamar mandi adalah tempat yang paling banyak disebut sebagai pemantik ide-ide brilian. Well, iya sih dekat dengan air dan we all have enought time to do our bussiness. Tapi pada lain waktu, meja makan adalah tempat kedua yang disebut-sebut sebagai pemantik ide cemerlang. Ada pun yang terjadi pada sebagian orang kadang tidak terjadi pada diri seorang Anshi, perempuan penjelajah pikiran.

Anshi menemukan banyak ide dan gagasan cemerlang pada momen makan, saat seorang diri. Menurutnya, ketika kita makan seorang diri maka kita terlibat penuh pada kegiatan itu, mulai dari memilih menu apa yang hendak dimakan, seberapa banyak porsinya, apa saja yang dimakan lebih dulu hingga berapa lama Ia harus menghabiskan makanan itu.

pada satu hari, Anshi memulai pagi dengan sebuah berita soal kakaknya yang terus saja bertengkar dengan sang suami, tidak ada habisnya. Si kakak melaporkan segala hal tidak terkecuali kekesalan si kakak terhadap sang suami kepada nya. Bahkan Anshi berkali-kali menjadi saksi hidup betapa si kakak dan suami tidak pernah nampak bahagia sebagai sepasang suami istri. Anshi merekam semua kejadian di dalam pikiran, mempunyai slot khusus untuk aneka kejadian yang menurutnya ‘bold’ dan menempati ruang pikirannya beberapa waktu. Sama seperti pagi itu, satu slot kembali terisi. Ia terbangun dengan rasa yang buruk, terluka dan kecewa. Padahal bukan dia yang mengalami hal kurang menyenangkan tapi cerita itu menularkan rasa padanya.

Ia beranjak dari tidur, mengambil sarapan dan duduk di meja makan seorang diri. Anshi menyendokkan sesuap sarapannya, mengunyah sambil melakukan pekerjaan nya: menjelajah pikiran. Ia masuk dalam sebuah lemari berisi aneka slot cerita yang terkumpul dan kembali mencocokkan slot baru dengan slot-slot lamanya. Anshi menggelar slot senada, mengutuk rangkaian slot itu, ‘kalo saja kalian sadari, sampai detik ini aku tak pernah ingin menikah karena kalian!’ berulang kali sambil dirinya menyeka airmata. Hatinya melemah, hampir lumat seiring dengan makanan yang ia kunyah pagi ini. Slot-slot itu kemudian Ia tata ulang lalu masuk ke lemari lagi sambil menelusuri luka baru di dadanya. Luka yang muncul ketika Ia membuka slot dan menutupnya. Dalam dua jam proses sarapannya, Anshi telah menyuap diri dengan luka baru, menganga dan perih. Tapi Ia tak pernah mengeluarkan airmata nya, hanya ketika Ia menjelajah pikiran saja.

Semangkuk rujak dingin yang disimpan Anshi dua hari di kulkas adalah sarapan pembawa lukanya pagi ini. Di meja makan, selama dua jam Ia menjadi seornag penjelajah pikiran yang membuka lemari penuh slot luka yang terus-menerus bertambah tapi Ia tidak bisa menolak. Ia bukan ornag yang bisa menolak apapun yang masuk di pikirannya. Dan kini, di meja makan sembari sarapan Anshi menuangkan secangkir penuh air ke mangkuk rujak-nya. Ia minum air bercampur kuah rujak, manis berselimut pedas menggigit dengan sensasi rasa asam dan diakhiri pahit. Anshi mengelap bibir, menuliskan sebaris kalimat di punggung slot barunya pagi ini; bercinta bagai meneguk kuah rendaman rujak.

Ia merasa setiap slot itu akan menjadi alasan tepat ketika nanti orang-orang kesayangannya bertanya soal pernikahan, soal rumah tangga, soal cinta kasih, soal hidupnya yang tanpa tujuan. Anshi punya ribuan slot yang siap ditarik, dibuka, dibacakan, diputar hingga didengarkan. Mangkuk kosong bekas kuah rujak masih meninggalkan aroma segar cacahan buah bercampur kuah asam pedas. Anshi mulai mengeluarkan diri dari pekerjaannya, kembali pada meja makan dan mangkuk di hadapannya. Sebuah ide telah datang, ujarnya dalam hati.

Anshi menulis pesan di telepon genggamnya kepada si kakak;

terimakasih untuk membuatku makin malas menjadi seperti dirimu, Kak. Hiduplah sendiri dan berhenti lah mengeluh. 🙂

sent.

karena tidak semua ego bisa dipuaskan, tidak semua kekalahan perlu diberi simpati. Terkadang, solusi cepat dalam hidup Anshi hanya semacam itu.

Terjaga.

kepala panas karena pikiran sedang diajak lari-lari sambil berhitung, mengarang seberapa jauh kira-kira jarak antara kita dengan masa ketika kamu tidak pernah punya pikiran soal lain kecuali soal kita dan aku tak punya alasan lain untuk berpikir hal-hal rumit kecuali cara melupakan kamu.

Kira-kira habis ongkos berapa untuk bisa sampai ke masa itu, atau setidaknya bisa kembali ke situ? Ah, kalau sekiranya mustahil ku kira masih ada telepon yang bisa ku hubungi untuk menyapa kamu, sekedar menanyakan apa kabar kita.

tetapi kadang sederet nomor telepon saat ini lebih sulit diingat dari sekedar wajah mu yang nampak pada malam-malam seperti ini. Dalam pantulan mimpi. Melintas dengan kecepatan konstan bak bayangan menghitung domba-domba melompati pagar, tapi lama-lama aku tak segera jatuh tertidur. Mata terjaga makin lebar.

selamat begadang. sehat selalu. semoga. aamiin.