blew me a kiss~

some people are tend to see each other, look up each other and to find each other.

after long tiring silent fight we had, we turn into some old friends that remains memories and names. but how long we can stand to keep it far from reach when everything around us seems try to catch us up together with no excuse?

that’s what we did last time we’ve met for good after big fight that runs my tears out and choked into long silent. He and i met for friend’s celebration in one fine evening. My friends invite us separately, i came with my friend first before he decide to came after when we’re out for celebrate some success step. he didn’t tell that he will came to us, just leave some message in my friend’s phone;

“is she with you, right now?”

He keep asking about me, try to get known where am i and try to avoid me at any way. just to keep me for uncomfortable feeling when he was around. But, my friend hands on the message on me and let me answer his message.

“just reply him, tell him you’re here with me. Let see if he will be coming or not.”

i texted and my friend nodding to the phone. i said OK while the reply came,

“so i don’t need to be there if she was there, better moved out before she killed me with her cold-bloody sight. hahaha.”

we laughed to his reply and my friend just let the phone off while we started a small party of five with another friends to coming up. Till i saw him, walk in confident into us and say hi to all.

“hey guys, long time no see. and, hi you, are you doin’ good now?” he do the fist-bump like the old days, smile and stare at me for a minute,

“yep, never been better. “

short answer made him draw a big smile and sit next to me, we’re just start the dinner together. All people was busy with food & drink while both of us, he and me, are too thrill to start the convos. He asked me, how i’ve been doing this late, try to talk casually with no offense and sign that we’ve just had biggest and worst fight ever. like never happened before. i almost bored to answer all of his question while my phone poppin’ message in the screen.

‘hey, be easy. he missed you, very much. trust me. take him easy tonite, okay?’ i turn my sight to her, who sitting next to me. I nod a little and turn back my eyes to him. And what happen next is turn my world upside down….

he blew me a kiss. in the middle of dinner, in front of our friends. short, fast and intense kisses right in my face.

i shocked. got turn down my head as fast as i can, i got myself choked up, and turn the sight back into him. He just smile. a warm feeling crawling inside me. I saw him right in his eyes with no words i tried to say,

‘what does that means?’

he just bow his lips into smug and pretend that never happen.

‘don’t be silly, tell me what’s going on with you?’

i knocked his knee with mine, under the table. he responded.

“what?”

“i asked you first, boy. what. does. that. means?”

he just smile, turn his head closer to me and repeat his blowing kiss and said some words with no sound, i just can read his lips. Then my face got red.

‘missed you much. badly.’

oh world, oh God. you always surprised me in every way.

well, welcome home, darling!

~ for you J, who can’t fight back my anger, well, you just made sweet comeback that i’ve never brave enough to imagine happened. thank you and enjoy the chocolate bars. 😉

Dan namaku, Lakshmi. [part 2]

Hingga kamu datang membuka pintu…

Untuk pertama kalinya, sejak dua hari lalu, kamu menyambut keberadaan ku di kamarmu dengan senyum yang berbeda. Senyum yang tak pernah aku temukan selama dua tahun mengenalmu. Senyum yang seakan ditarik paksa diatas wajahmu yang seketika pucat pasi, yang hanya dalam hitungan detik lalu lenyap. Berganti dengan tatapan paling mengerikan yang pernah aku lihat dari wajah mu yang senantiasa aku lekatkan di benak ku.

Ketika pintu kamar mu terbuka lebar, dengan satu tangan bergetar hebat hingga gagang pintu bergeretak. Tanpa ada kata yang terucap, kamu mematung dengan wajah pucat pasi. Seperti pulang dari kutub utara, wajah mu membeku. Biru dan dingin, mirip tembok kamar mu. Aku tersenyum, membiarkan mu terpaku di ambang pintu sembari menantikan saat yang tepat untuk melontarkan sebuah sapa. Ku angkat benda yang ada di tangan kiri ku ke udara, sejajar dengan kepala ku, ku goyang-goyangkan tepat di depan muka ku dengan mata tetap menatap TV yang menyiarkan berita tengah malam.

Kamu tertatih menuju ranjang, menutup pintu di belakang punggung mu dengan tergesa. Badan mu bergetar hebat, menghampiri ku duduk di tepian ranjang. Meraih tangan kiri ku yang masih terangkat di udara, meraih benda yang ada di genggaman tangan ku dan mulai menangis seperti anak kecil yang dimarahi ibunya karena tidak mengindahkan nasehatnya. Saat itulah aku menjadi seseorang yang tidak lagi kamu kenal, seseorang yang berbeda dan asing.

Tepat ketika kamu menangis tergugu di samping ku, ku layangkan tatapan ke kepala mu yang tertunduk di pangkuan menangis. Ku angkat kepala mu dengan susah payah, menatap wajahmu yang basah air mata dan memerah seperti kepiting rebus, mulutmu bergetar sembari berusaha mengatakan sesuatu yang tidak bisa ku dengar jelas. Aku mencium mu. Tepat di mulut mu yang bergetar itu, lama dan dalam. Di sela tangis, kamu diam tak membalas ciuman ku seperti biasanya. Kamu tetap menangis dan menangis saja tanpa memperdulikan ciuman ku barusan.

Aku melepas ciuman ku dan tersenyum untuk mu yang sama sekali tak mau memandang wajah ku lagi seperti biasa. Mengelus kepala mu penuh sayang dan mengecup kening mu, berbisik agar kamu menghentikan tangismu. Kamu menangis semakin keras, semakin bergetar dan semakin tertunduk. Aku memeluk mu erat, membiarkan mu menangis di dada ku. Kembali ku bisikkan untuk segera mengakhiri tangis mu, sembari mengusap rambutmu yang beraroma sampo favoritku. Tak ada jawaban, hanya ada tangis dan getaran hebat bahu mu menumpahkan air mata.

“Ini sudah lebih dari cukup…”

Aku mengucapkan sepotong kalimat itu tepat di telinga kiri mu, lalu melepaskan pelukan ku dan beranjak ke ranjang untuk tidur. Kita menghabiskan sisa malam itu dengan cara kita masing-masing. Kamu menangis sepanjang malam hingga tertidur dan aku tertidur tanpa sempat menangis hingga keesokan harinya, aku terbangun lebih awal, berkemas dan beranjak dalam diam menuju bandara.

Meninggalkan kamu yang tertidur pulas di sisi lain ranjang kita, memunggungi ku semalaman. Wajah mu bengkak dan nampak lelah. Kamu tetap tampan seperti yang selalu aku kagumi setiap pagi kita. Tapi aku harus segera pergi, taksi menunggu di depan gerbang. Aku meninggalkan mu dengan secangkir air putih di nakas beserta sebutir vitamin C tepat di sisi sebuah amplop yang semalam aku pegang di tangan kiri ku dan kemudian kamu raih sebelum menangis hebat, berisi selembar hasil cek lab HCG (+) atas nama Prativi.

Aku bukan penyuka warna pink. Bukan pula penyuka buku warna merah. Aku tak pernah melihat foto kita dalam pigura satu pun, apalagi dua. Sikat gigi ku hanya ada satu. Obat kumur ku cawan nya tak pernah lepas dari tutupnya.

Dan namaku, Lakshmi.

Dan namaku, Lakshmi. [part 1]

Dulu, dulu sekali.

Dua hari lalu aku tiba di kamar mu, berbagi sudut ruang dengan mu. Melakukan apa saja yang kita suka, aku suka, kamu suka. Menghabiskan berbotol-botol bir namun selalu kamu yang mabuk duluan. Mengomentari tayangan TV yang tak pernah betul-betul kita tonton. Bergantian melontarkan cerita-cerita lucu hingga dongeng anak-anak yang amat khayal. Menghabiskan ber porsi-porsi martabak telor hingga nasi goreng yang dibeli di abang-abang gerobakan dan dimakan di kamar hingga aroma nya menguar ke penjuru ruangan hingga dua jam kemudian. Beberapa kali diselingi kamu ijin pergi ke warung depan buat beli sebungkus rokok.

Seperti sekarang…

Sembari menunggu kamu kembali, aku paling suka merapikan kamar. Hanya sekedar menempatkan barang-barang kembali pada lokasi yang seharusnya.  Terkadang ku temukan beberapa ‘kejutan’ kecil di sela-selanya. Ranjang yang dua hari ini aku tiduri terasa tak sehangat dahulu. Aroma selimutnya berbeda. Bahkan lekuk kepala di bantalnya pun nampak lain. Tapi aku tak perlu peduli, selama ini masih kamar mu tentunya akan selalu nyaman seperti biasanya.

Handuk yang tergantung di sisi kamar mandi juga bukan satu lagi melainkan dua, tapi itu bukan handuk ku. Hanya saja aku tak terlalu peduli dan memakai handuk itu meski rasanya lain di kulitku yang basah. Di atas kaca wastafel, ku letakkan sikat gigi dan sisir ku lengkap dengan tetes mata serta obat kumur ku. Semuanya dengan warna dan aroma kesukaan ku. Entah aku yang lupa atau memang kamu sengaja menggantinya, tapi sikat gigi di gelas itu kini ada dua warna lain.

Tetes mata ku tutup nya miring seperti habis dipakai dan ditutup tergesa. Obat kumur ku berkurang hampir separuh dengan posisi cawan kumurnya tidak lagi terpasang di tutupnya seperti biasa, mungkin saja kamu mulai pelupa. Sisirnya pun kini penuh rambut yang rontok dan tersangkut bak habis menyisir rambut yang amat tebal dan panjang sebahu, padahal rambutku tak pernah melewati panjang anting di telingaku.

Aku menemukan secarik kertas di atas nakas kamarmu bertuliskan sebuah pesan pendek; ‘kenapa tidak pernah cerita? 🙂 ’ dengan tulisan tangan entah siapa tapi aku tahu itu bukan tulisan tangan ku. Secepat kilat ku remas dan ku lempar gumpalan kertas itu ke tong sampah di sudut kamar mu. Entah kamu sudah baca atau belum, perlu apa aku peduli. Yang ku pedulikan saat itu hanya kamu, dan aku. Kita. Maka tak perlu ada urusan selain itu yang aku pedulikan.

Ku buka laci teratas nakas di samping tempat tidurmu, penuh berisi berbagai barang; kunci-kunci, nota-nota, bros sisa seminar, korek api, bungkus parfum yang sudah penyok dan tanpa isi, potongan kuku, karet gelang, tumpukan amplop-amplop berisi dan menggemuk entah apa saja isinya. Ku tarik satu amplop tergemuk yang lidah nya menganga tak kuasa menahan jejalan kertas-kertas yang seakan ingin muntah dari dalamnya. Amplop bekas yang lusuh tanpa tulisan apapun namun beberapa sudutnya hampir bolong.

Ku tarik selembar yang paling menonjol. Sebuah e-tiket maskapai nasional tertanggal 2 bulan lalu tujuan domestik. Ku tarik lembar lainnya sembari menelusir dengan telunjuk, sebuah nota hotel bintang 3 tertanggal 4 bulan lalu dengan jumlah pax untuk dua orang selama 5 hari. Ku telusur ke bagian depan amplop, secarik kertas kecil yang nampak masih baru terselip rapi di sisi dalam bagian depan amplop bertulis; ‘ada yang aku lewatkan disini?’ lagi-lagi ku remas buru-buru kertas itu dan lagi-lagi ku lemparkan ke tong sampah.

Ku kembalikan amplop pada tempatnya, menutup laci tanpa suara. Aku beranjak ke lemari pakaian mu, hendak meminjam salah satu kaus mu sebelum berangkat tidur. Di sisi kiri lemari yang ku buka pertama, tumpukan baju mu berjajar rapi disusun berdasarkan jenis pakaian nya, disandingkan dengan pasangannya. Sungguh bukan cara ku merapikan lemari pakaian mu selama ini. Ku tarik satu kaus dari tumpukan dan mengenakan nya segera setelah mengganti handuk yang melilit tubuhku sedari tadi.

Ketika hendak menutup lemari, ku buka sisi lemari sebelah kanan. Di bagian paling bawah, ku temukan setumpuk barang yang menarik perhatianku. Sebuah selimut warna pink, boneka dan bantal warna senada, beberapa pakaian perempuan berukuran dua ukuran diatas ku, beberapa buku, gelas, hingga pigura foto seukuran kartu pos dalam posisi terbalik. Ku raih pigura foto teratas, ku balik dan ku pandangi lekat-lekat apa yang terpasang di baliknya. Aku tersenyum tipis.

Ku ambil pigura kedua yang seukuran dengan yang pertama tadi, ku balik pigura itu dan ku pandangi apa yang ada di baliknya. Aku kembali mengulum senyum tipis. Ku angkat bantal dan boneka yang menutupi beberapa buku novel dan sebuah buku catatan. Novel terjemahan yang judulnya pernah kami bahas panjang lebar pada suatu malam tertera di sampulnya. Beralih pada buku catatan sebesar kartu pos berwarna merah dengan pengikat di sisi sampingnya. Ku urai simpul pengikatnya dan membuka sampulnya, halaman pertama hanya bertulis kalimat pendek; ‘our story, forever love’ dengan dua huruf inisial di bawahnya.

Kembali aku tersenyum tipis. Buku catatan, pigura foto ku kembalikan pada tempatnya. Ku tutup rapat lemari itu seperti sediakala dan beranjak ke ranjang yang tak pernah rapi semenjak kedatanganku dua hari lalu. Duduk di tepiannya sembari menatap layar televisi yang tidak pernah padam sejak dua hari pula dan aku sibuk mengganti channelnya bolak-balik. Di tangan kiri ku menggenggam sebuah benda yang sangat meyakinkan aku bahwa itu bukan milikku, sama sekali tidak pernah menjadi milik ku.

Tentang Rumah Mereka.

Mereka adalah dua sosok yang belum pernah bertemu sapa dalam nyata, hanya suara yang menyatukan mereka selama enam bulan lamanya. Tanpa pernah tahu seperti apa menyentuh tangan untuk berjabat, atau bahkan sekedar memandang langsung ke dalam bola mata masing-masing. Namun itu lah kisah yang mereka mulai, awal pertemuan yang jauh terjadi setelah obrolan-obrolan tak lagi membahas perihal harga beras yang makin tinggi, mengapa tukang parkir muncul dan hilang seperti siluman, atau sekedar membahas warna permen pop-rock kegemaran mereka ketika masih SD.

Seorang lelaki yang oportunis dan seorang perempuan yang terlalu serius menjadi kan mereka sepasang pencinta yang hebat. Keduanya punya persoalan dan nyali yang sama kuatnya dengan tambang kilang minyak; keras, kokoh namun kotor penuh oli mesin. Banyak perkara yang mereka cipta dan selesaikan namun lebih banyak cerita dimulai dengan bagian baik-nya. Lelaki muda yang baru meniti karir di ibukota dengan jumlah gaji yang boleh dibilang ‘besar’ kala itu, punya se-gudang obsesi yang menunggu saat eksekusi.

Beli gadget mahal, baju dan sepatu serta aksesoris ber-merk, liburan ke luar negeri hingga meng-koleksi parfum. Bisa saja seluruh gaji yang dia miliki habis seketika untuk gonta-ganti gadget dalam sebulan dua bulan, atau lenyap ke tangan kreditur bank untuk nyicil tagihan credit card ber-limit hanya satu garis di atas gaji bulanan nya. Tapi dia menemukan satu cara lain lagi untuk mengalirkan gaji yang menumpuk di rekening-nya; ber-senang senang setiap bulan selama tiga hari di luar kota dengan seorang perempuan yang ia yakin betul bisa mengisi rasa kosong yang selama ini ia punya.

Apakah dia jomblo? Pada saat ia berkenalan dengan perempuan itu, ya memang dia jomblo. Tapi tepat ketika lelaki ini pertama kali memutuskan untuk menghabiskan tiga hari di awal bulan nya untuk berlibur ke luar kota, ia sudah mengikat hubungan dengan seorang gadis di ibukota. Yah, memang bukan suatu awal yang bagus namun tentu lah ini jadi awal sebuah cerita yang sejatinya tak perlu ditiru apalagi diikuti bagian-bagian jeleknya. Cukup jadi pengalaman saja.

Lelaki ini mengikat janji sebagai sepasang kekasih dengan seorang gadis tepat seminggu sebelum ia berangkat ke kota seberang yang tersohor akan kenyamanan dan keramahan penduduk-nya, menemui perempuan yang selama ini menghabiskan ber-ratus ribu pulsa-nya setiap malam hanya untuk mendengar suaranya dan jatuh tertidur ditengah-tengah obrolan. Perempuan yang akan ia temui ini sama sekali belum pernah ia tatap wajahnya secara langsung, apalagi menyentuh telapak tangan-nya. Ia pergi dengan se-pengetahuan si gadis berbekal janji ‘aku akan menyelesaikan urusan ini dengan nya dan kembali sepenuh nya buat kamu.’

Perempuan nya tak tahu menahu soal si gadis yang telah mendahuluinya mengambil posisi sebagai kekasih, posisi yang selama ini dibayangkan. Ia hanya tahu bahwa lelaki yang akan menghampirinya kali ini adalah lelaki yang ia nantikan kehadirannya sebagai penjawab rasa penasaran atas apa yang selama ini mereka bicarakan di telepon tempo hari. Yah, walau jauh di lubuk hati perempuan ini mendambakan si lelaki memberinya jawaban atas rasa penasaran nya itu tapi itu hanya ia simpan sendiri sebagai sepuluh persen kemungkinan yang akan terjadi diantara mereka. Dengan niat menjumpai seorang teman mengobrol yang menyenangkan, si perempuan menyambut tibanya lelaki itu di kota nya.

Mereka berangkat dari rasa penasaran yang sama besar nya, ingin menjawab atau mungkin membuktikan apa yang mereka rasakan selama ini, apakah nyaman atau kah sesuatu yang lain? Mereka bertemu tepat pada hari sabtu di-kala jalanan kota ramai hiruk pikuk kegiatan wisata dan jalan-jalan keluarga. Mereka saling bertukar tatap dalam bisu, sembari mencari apa yang mereka nantikan sebagai puncak asa dan rindu. Sayang nya, Tuhan tak memberikan apa yang mereka mau, tapi Tuhan berikan mereka yang melampaui batas kesadaran mereka sendiri; mereka saling jatuh cinta.

Tepat pada saat mata mereka saling bertukar cahaya di pagi buta dan bersamaan dengan pertukaran nafas kala mereka saling menyebut nama, dalam satu nafas bersama. Ciuman pertama di hari dan jam pertama pertemuan mereka yang pertama namun rasanya seperti bertemu seseorang yang lama pergi dan kini telah pulang kembali. Bukan rasa canggung yang kaku dan kikuk namun rasa canggung merindu yang seakan lama tertahan diantara mereka.

Lelaki itu terkejut dengan lonjakan rasa dalam hatinya; perasaan apa ini? Mengapa bukan rasa yang sama seperti yang ku temui pada gadisku kemarin? Mengapa kali ini debaran-nya terlalu kuat hingga rasanya ada yang akan melompat keluar dari rongga dada? Ia terus menerus mempertanyakan pada dirinya sendiri, sementara perempuan yang ada dalam peluk-nya dan ia kecup lama-lama kening-nya pun sedang merasakan gejolak terhebat dalam dirinya.

Si perempuan memperkuat cengkeraman jemari nya pada punggung lelaki yang sesaat lalu telah melonjakkan seluruh dunia nya seakan sedang menumpangi kereta luncur; merosot jauh ke depan dan begitu cepat. Seperti ada yang melepaskan jerat dalam dada nya, melonggarkan ikatan dalam nadinya, kemudian mengisi rongga rongga dadanya dengan sesuatu yang sejuk dan panas bergantian. Rasanya tidak keruan, hingga perempuan itu beberapa kali menekan jemari nya ke punggung si lelaki hingga ia tersentak.

Lelaki itu bertanya, apakah aku melakukan sesuatu yang keliru di kali pertama pertemuan kita ini? Perempuan itu tersenyum ringan menatap bola mata si lelaki yang teduh, tidak ada yang keliru, hanya saja ini seperti terlalu benar untuk kita. Terlalu benar untuk menjadi nyata. Pelukan pun kembali mengeratkan kaitannya, mereka membuat iri seisi dunia hanya dengan pelukan hangat yang mendamba untuk menuntaskan rindu atau entah apa, hanya mereka yang mengerti betul apa saja yang sedang dan akan mereka tuntaskan mulai dari saat itu.

Hari pertama dari rangkaian tiga hari bersama dimulai dengan ‘mengenalkan’ diri satu sama lain; si perempuan dengan segala keseriusan nya tentang dunia dan seluruh isinya, si lelaki dengan segala kesempatan yang mungkin ia raih dan berharap dapat menjadi bagian dari keberuntungan nya di dunia ini. Mereka saling bercerita tentang apa yang selama ini luput dari obrolan di ponsel, mulai dari warna mata si perempuan yang baru disadari si lelaki ternyata berwarna coklat bukan lah hitam.

Lelaki ini yakin betul bahwa perempuan yang senantiasa mengisi lubang-lubang dalam asa dan hatinya ini memiliki warna mata gelap hitam, namun semua nya tiba-tiba runtuh ketika tepat di hadapannya ia masuk jauh ke dalam kedua bola mata yang berwarna coklat dan hangat itu. Ia terlarut di dalam nya, memilih menghilang bersama warna coklat bersemburat kuning yang mirip warna hazel. ‘Ku pikir warna mata mu hitam, ternyata berwarna coklat. Jauh lebih cantik.’ Kata si lelaki bergeming menatap lekat di kedua mata perempuan nya.

Perempuan itu tersenyum, seraya membuka jalan lebar-lebar agar si lelaki lebih leluasa masuk ke dalam hangat warna coklat kedua matanya dan menghadiahkan sebuah kecupan manis di ujung bibir si lelaki. Mereka tersenyum bersama, di hari pertama pertemuan mereka yang terlalu pagi telah mendatangkan dua kehangatan yang nantinya akan selalu mereka damba; ciuman hangat dan pelukan erat. sebuah sentuhan tak berarti apa-apa jika tak ada gelenyar panas yang mengalir dalam diri mereka namun tak satu pun mereka mengucap.

Malam hari nya, perempuan itu mengajak lelaki nya mengunjungi kafe favoritnya yang selama ini hanya ia ceritakan di pesan singkat dan perbicangan di ponsel. Kafe yang tak punya jam tutup itu menjadi tempat mereka menghabiskan malam untuk berbincang segala hal hingga pukul dua pagi. Tak ada perbincangan soal gadis si lelaki, nampaknya ia menahan diri mati-matian untuk menunggu saat yang tepat mengatakan pada si perempuan soal diri nya yang seharusnya ia ketahui.

Lelaki ini sedang menikmati rasa yang sangat berbeda dari apa yang sebelumnya ia duga; tanpa perasaan apa-apa akan mudah bagi ku untuk memperjelas posisi dan mengakhiri semuanya. Dugaan yang teramat mantap ia pegang teguh sejak berangkat dari ibukota menuju kota perempuan itu, ia terus men-sugesti diri agar semua perihal yang sudah ia sepakati dan janjikan dengan gadisnya itu dapat ia tunai kan dengan lancar dan mudah, hingga ia nantinya bisa pulang ke ibukota dengan lega tanpa ada hutang atau urusan yang belum jelas.

Nyatanya semua bubar, ambyar dan menguar tepat ketika kaki nya menjejak di tanah tempat perempuan nya menunggu pagi itu. Si lelaki pun tak mengerti mengapa semuanya tiba-tiba tidak jelas, suram dan samar ketika ia sampai disini dan menyongsong perempuan nya. Tepat ketika si lelaki menyambut uluran tangan si perempuan dan refleks ia menarik tubuh perempuan itu ke pelukan nya, ia kembali merasa kosong. Seakan ia tiba disini bukan untuk alasan-alasan yang sebelumnya ia rangkai namun hanya karena ia memang harus berada disini, bersama nya.

Maka hilang lah sudah semua janji dan tekad yang ia sepakati dengan gadisnya, menguap berganti dengan rasa nyaman yang merengkuhnya begitu hangat dan tanpa meminta. Perempuan itu membuat nya melupakan tujuan nya datang kemari, namun ia tak melupakan gadisnya, yang setia menunggu lelaki itu menepati janji dan membayar hutang persoalan hubungan diantara mereka.

Lelaki ini terus mencari di dalam dirinya sendiri, obrolan menjelang pagi di kafe itu membuatnya makin bimbang dan berat memutuskan. Perempuan ini adalah apa yang selama ini ia sebut ‘rumah’, sosok yang mampu membuka diri nya jauh ke dalam tanpa diminta, membuatnya menumpahkan segala keluh kesah, seseorang yang punya kesabaran dan pengertian luar biasa untuk segala amarah dan ego nya, perempuan yang mampu bertahan di sisinya bersama tangis dan tawa nya. Sedangkan gadisnya adalah sosok yang membutuhkan dia, sosok yang tak bisa hidup tanpa si lelaki ini berada di sisinya, seseorang yang berarti segalanya baginya hingga lelaki ini tak mungkin memilih.

Bukan, bukan ia tak mungkin memilih namun ia belum mau memilih. Keduanya adalah bilah penyeimbang hidup nya, sosok yang menjaga agar jalan nya tetap tegak dan orang-orang yang membuat nya selalu merasa ‘hidup’. Ada hal-hal yang perempuan itu miliki yang tak dimiliki gadisnya, kedewasaan dan pikiran yang terbuka sehingga nampak segala masalah lelaki itu ada jawabnya. Ia merasa tak pernah ada yang tak terjawab oleh perempuan itu, segala keluh kesah dan pertanyaan-pertanyaan se-absurd apapun selalu ada jawaban.

Lelaki itu merasakan betapa beban yang ia miliki bisa ia bagi sementara gadisnya hanya mampu membagi dirinya menjadi sosok yang diharapkan dan tempat si gadis bergantung dalam hidupnya. Keduanya membawa lelaki itu pada rasa enggan mengakhiri salah satunya, ia hanya ingin semuanya ada di tempat yang ia mau, tempat yang sejatinya tidak mungkin dilakoni sekaligus. Entah mana yang bertahan lebih lama namun cerita yang terjadi selanjutnya mungkin tak ingin dialami siapa pun di dunia ini.

Cerita yang terjadi kemudian merantai kedatangan lelaki itu ke kota si perempuan setiap bulan di minggu pertama. Mereka menghabiskan dua-tiga hari bersama di kota itu, tanpa terpisah se-detik pun. Perempuan itu punya hobi jalan-jalan keliling kota dan memotret, si lelaki lebih suka makan dan menghabiskan sepanjang waktunya di kamar. Kadang perempuan itu memaksa lelaki nya untuk beranjak dari ranjang dan menghabiskan berjam-jam di jalan; menyusuri kota dengan jalan kaki atau sekedar keliling naik bis kota.

Sembari memotret dan sesekali jajan ke warung-warung yang mereka lewati, mereka juga hobi berlama-lama duduk di kafe atau emperan pertokoan untuk mengobrol ditemani air mineral dingin dan jus jeruk botolan yang di beli di minimarket dua puluh empat jam. Membahas orang-orang yang berlalu-lalang, menebak arah mata angin, menerka berapa harga jualan para pedagang asongan dan banyak lagi. Seakan tak ada habisnya obrolan mereka siang itu hingga malam mereka kembali ke penginapan, mereka masih meneruskan hobi bercerita itu di atas tempat tidur sambil lelaki itu menatap layar televisi dan perempuan nya membaca novel.

Percakapan diatas ranjang malam itu bukan lah percakapan yang pertama namun di penghujung harinya sebelum esok kembali ke ibukota dan pelukan gadisnya, lelaki itu akhirnya membuka pembicaraan. Pelan tapi pasti ia katakan ke perempuan nya bahwa ia telah mengikat janji dengan seorang gadis di ibukota. si perempuan seketika terpaku, menatap kosong novel di pangkuannya. memucat. Ada hal-hal yang selama ini tak pernah ingin di dengarnya dari orang yang dia sayangi. Namun kali ini nampaknya Tuhan memberi opsi lain.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah kumpulan tangis si perempuan yang menahan kekecewaan dalam-dalam serta tangis permohonan maaf si lelaki yang takut setengah mati atas apa yang ia akui baru saja. Yah bukan lah tipikal adegan sinetron murahan tapi cukup membuat keduanya berhenti berkata-kata malam itu. Perempuan itu pasrah, memilih untuk menyerah namun si lelaki meyakinkan dirinya bahwa ia ingin mereka tetap bersama, apapun yang terjadi. Terdengar tak adil bagi si perempuan namun cinta-nya bagi si lelaki memilih untuk bertahan.

Bertahan dengan cinta lelaki yang terbagi bukan soal mudah ketika perempuan ini memutuskan menjalani apa yang mereka sepakati, ini babak baru. orang lain sebut ini perselingkuhan namun mereka sebut ini ‘berpulang ke rumah’. Lelaki itu selalu menyebut perempuan itu ‘rumah’nya ketika hanya ada penat di ibukota dan si gadis tak menyelesaikan perkara sehari-hari nya. Perempuan ini lah ‘rumah’ baginya, tempatnya melepaskan seluruh penat dan berbagi rasa.

Tentang rumah: Her.

Her :

Selalu tersenyum mengingat bulan Februari karena itulah pertama kalinya bertemu dengan lelaki yang selama ini hanya ku kenal lewat telepon. Menunggu kereta yang membawanya dari Jakarta tiba di Jogja pagi itu, sempat ragu dan khawatir. Apakah ia benar seperti bayanganku selama ini? Atau kah ia sosok yang sama sekali berbeda? Entah lah, hanya penasaran yang hampir menuju titik puncak yang mengganggu pikiran pagi itu. Ku habiskan pagi yang masih gelap dengan berjalan menyisir peron stasiun yang sepi dan dingin. Ku bawakan teh panas dalam termos kecil yang ku simpan dalam tas jinjing ku, seperti yang ia minta tempo hari sebelum memberitakan keberangkatan-nya ke Jogja. Aku memilih kan untuknya bulan Februari sebagai waktu yang tepat untuk kami bertemu setelah sekian lama kami habiskan waktu saling menduga dan mengira-ngira seperti apa sosok kami. Selain bulan ini adalah bulan kelahiran kami, bulan ini juga punya jumlah hari yang paling sedikit dalam setahun, seperti halnya waktu yang kami miliki setiap kali bersama, terlalu sedikit tak pernah cukup. Februari juga pas dengan musim hujan yang mulai statis; tidak terlampau deras namun intensitas-nya masih tinggi sehingga sudah pasti hujan akan menjadi penghias perjalanan kami selama di jogja nanti.

Pagi itu tepat dua hari lewat hari ulang tahun ku, hari yang sama pula ia kirimkan kabar tentang rencana kunjungannya ke Jogja sebagai bagian dari kado ulang tahun ku.

‘aku akan mengunjungi mu di Jogja sebagai kado ulang tahun.’

Bisa dibayangkan betapa campur aduk nya perasaanku saat itu; menemui orang yang sama sekali belum pernah bertemu muka dan hanya tau suara serta foto diri yang ia kirim tempo hari via Messenger saja. Lelaki yang bermata sayu, berkulit putih dan kurus. Mata sayu nya adalah hal pertama yang meluluhkan hatiku, mata yang teduh dan menyimpan banyak misteri serta mimpi. Dia orang yang sangat periang, suka sekali membuat ku tertawa bahkan sampai rela ditertawakan. Tiada hari tanpa tawa, minimal aku harus senyum, katanya tempo hari mengingatkan. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak tersenyum setiap mengingat dia, yang selalu memberi ku ‘peringatan’ jika aku mulai berbelok arah, orang yang paling galak kalau tahu aku telat mengerjakan tugas atau belajar buat ujian. Dia juga paling senang membantu ku mengerjakan tugas paper karena menurut dia itu asik sekali bisa sekalian cari tahu tentang hal-hal baru. Ia juga tahu aku hobi membaca, terkadang ia kirimkan beberapa novel yang sudah dia baca kepada ku, berharap aku mau membaca cerita yang sama dan meminta pendapat ku mengenai buku tersebut. Tak jarang pula ia kirim kan beberapa penggalan kata dari buku yang menurutnya menarik untuk direnungkan bersama, membahasnya hingga lewat tengah malam dan bangun tergagap ke-esokan paginya.

Namun khusus pagi ini aku bangun tanpa ter-gagap, pukul tiga pagi aku sudah bersiap ke stasiun dan jam empat pagi aku sudah berada tepat di peron sebelah pintu keluar. Kereta nya akan tiba pada pukul empat lewat tiga puluh sehingga tak perlu waktu lama untuk ku menunggu disana. Namun setelah empat puluh menit berlalu, kereta mu tak jua tiba maka aku mulai gelisah dan bertanya pada petugas stasiun,

‘kereta dari Jakarta kok belum datang ya, Pak? Sudah lewat jam nya…’

‘yang jadwal jam empat tiga puluh ya, mbak? Iya, nampaknya akan terlambat datang. Mungkin pukul lima lewat baru sampai. Tunggu saja mbak…’

Maka aku putuskan untuk berjalan-jalan menyusuri tembok stasiun sembari melihat suasana sepi stasiun yang dihiasi para pedagang asongan tidur berderet pada sisi tembok stasiun menunggu fajar tiba. Kios-kios ditutup rapat dengan kain, tak ada warung yang buka untuk sekedar membeli minum. Maka aku duduk di salah satu kursi peron dan membuka termos kecil berisi teh panas yang sudah bertambah air dari embun uap panas. Ku sesap sedikit, masih terasa panas di lidah namun tak terlalu manis. Tak lama ku nikmati sesap demi sesap teh yang ada di tangan ketika sorot lampu loko nampak dari kejauhan dibarengi suara petugas stasiun memberitakan kedatangan kereta dari Jakarta. Kereta mu. Ku nantikan sembari tetap terduduk di kursi peron dengan menggenggam termos kecil ku ber-iringan dengan suara decit roda kereta melaju perlahan memasuki peron. Kemudian ratusan orang berjubel turun dari gerbong, aku hanya memandang dengan gugup. Ada kah kamu diantara mereka? Ku pandangi layar ponsel ku, sebuah nama berkedip disana.

‘Ya, halo?’

‘hey, aku sudah sampai nih, kamu dimana?

i know. Aku lihat kereta mu masuk peron barusan. Aku ada di peron sisi selatan. Kamu sudah berada di pintu keluar?’

‘belum, aku mau mampir ke toilet sebentar. Tunggu aku di teras tengah stasiun dekat pintu keluar ya. I’ll meet you there, soon..

‘oke.’

Ku kemasi termos teh ke dalam tas jinjing ku dan segera ku berjalan menuju teras tengah stasiun yang menghubungkan peron selatan dan utara. Aku berdiri terpaku memandang ke arah pintu keluar, menantikan sosok yang selama ini Cuma ku bayangkan setiap harinya. Tak lama, sosok yang tak asing menghampiriku. Ber-kaus hitam, ber celana jins, dengan backpack di punggung dan senyum yang canggung namun lebar. Ya, senyum ter-lucu yang pernah aku temui ketika bertemu dengan orang baru. Entah senyum bahagia atau kah senyum canggung dan gugup.

hey, finally…’ dia mengulurkan tangan, menyebut nama yang sudah saling kami ketahui hanya untuk melunturkan rasa canggung kala itu.

‘capek gak semalaman di kereta?’

‘capek lah tapi kalah sama semangat untuk menjelajah Jogja bareng kamu.’

Kami tertawa karena jawaban yang ia lontarkan cukup membuat kami merasa geli. Mirip dengan apa yang tempo hari ia katakan di Messenger; ‘kamu jangan kaget ya kalau ketemu aku nanti, aku ini malu-maluin banget. Ketawa aja kalau memang aku bikin malu. Hahaha…’. sekarang bukan malu tapi kami nampaknya terlalu bersemangat untuk bertemu sampai kami berdua canggung dan akhirnya tertawa melihat tingkah kami yang menggelikan ini.

can we have a sit for a while? Pantat ku hampir tipis nih semalam duduk di kereta gak pindah posisi. Sekalian mau nagih bekal. Bawa yang aku pesan kan?’

Aku hanya tersenyum dan mengangguk sembari menyodorkan termos kecil berisi teh yang tadi sempat ke sesap isinya beberapa sesapan. Ia menyambut termos teh itu dengan semangat dan segera membuka tutupnya untuk menuangkan teh yang sudah tak terlalu panas itu.

hmm, the best feeling ever nih! Teh panas pagi-pagi di Jogja sama kamu. Gak pernah aku ngerasa se-hangat ini.’ Komentar spontan yang ku dengarkan sembari menatap lekat-lekat seluruh keberadaan mu disisi ku. Tanpa henti, ku susuri pandang tepat ke wajah mu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki seraya memastikan aku tidak bermimpi berada dalam tarikan nafas yang sama dengan mu saat ini, pagi ini. Pukul enam pagi kami putuskan untuk jalan-jalan di sekitaran Jalan Malioboro mumpung masih sepi dan jam check-in hotelnya masih nanti siang. Dia tak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun dari ku. Lelaki ini tiba baru beberapa jam lalu namun terasa seperti seseorang yang sudah bertahun-tahun ada disisiku. Aneh rasanya namun kenyamanan singkat yang selama ini kami punya di telepon-telepon dan Messenger telah berpindah tempat kemari.

Tentang rumah: Him.

Him :

Saya tak pernah merasakan semangat seperti ini, semangat yang menyala ketika tahu saya akan berada di kota yang baru pertama kali saya kunjungi seumur hidup; Jogjakarta. Hanya pernah mendengar cerita dari kawan dan saudara tentang betapa serunya menghabiskan waktu disana, jalan-jalan ke Malioboro, makan di angkringan, keliling kota dan melihat kraton. Semuanya ada dalam bayangan ketika mendengar kata Jogja. Ada satu lagi yang juga membuat saya semakin bersemangat untuk menyambangi kota pelajar sekaligus kota budaya ini, seorang perempuan yang belum pernah saya jumpai secara langsung namun sudah ‘mencuri hati’ saya sejak pertama kali kami bertukar salam lewat telepon genggam seorang teman.

Ya, perempuan itu lah yang makin membulatkan tekad saya untuk berkunjung kesana, membuktikan apa kata teman dan saudara tentang betapa indahnya, asyiknya dan romantisnya Jogja. Sebulan lalu ia menceritakan pada saya via telepon tentang serunya jalan-jalan di Jogja, kota tempat ia menghabiskan masa perantauan-nya sebagai pelajar. Karena tak punya gambaran apa-apa soal kota ini, saya percaya saja padanya. Berbekal hasil pencarian di beberapa laman dan mesin pencarian di internet, saya tanyakan padanya mengenai beberapa tempat dan memastikan pula apakah saya bisa mengunjunginya kelak. Dia adalah perempuan yang menyenangkan, selalu ber-affirmasi positif terhadap apapun. Bahkan ketika saya bilang kalau saya yang saat itu masih tinggal di Jakarta sebagai pegawai baru dan belum mendapatkah jatah cuti sehingga nampak mustahil untuk berlibur kesana, ia dengan yakin berkata; ‘yang penting kamu niatkan dulu, nanti kan tinggal dikabulkan doa’nya sama Tuhan’.

Enam bulan pertama masa kerja di Jakarta adalah masa-masa terberat, beradaptasi dengan ritme kerja tanpa jeda, beban kerja yang tanpa kompromi serta waktu yang seakan lewat seperti kilat. Ia masuk dalam kehidupan saya teat disaat masa kehidupan kerja di puncak kepenatan, tahun pertama bekerja dengan menjadi ‘the jakartans’ yang bangun subuh dan pulang petang. Dia hampir setiap pagi membangunkan via telepon, memastikan saya terbangun dan tidak jatuh tertidur lagi karena bisa telat ikut menumpang mobil atasan kantor yang kebetulan searah dari kos-kosan. Jam 5 pagi saya harus sudah sampai di rumah atasan untuk kemudian berangkat bersama-sama ke kantor. Resiko punya tempat kerja yang jauh dari tempat kos yang jarak normalnya 1,5 jam perjalanan tanpa macet, berangkat pagi buta adalah satu-satunya pilihan. Masih untung ada atasan kantor yang menawarkan tumpangan dengan syarat saya harus datang sepagi mungkin sblm pukul 6 pagi ke rumahnya yang berjarak 1 kali naik angkot dari kos-kosan. Uang transport belum masuk ke daftar gaji waktu itu sehingga menumpang jadi pilihan jitu guna menghemat pengeluaran. Setiba di kantor, ritual pagi yang harus dilakukan adalah absen – nyalakan komputer – nyalakan Messenger – turun ke kantin kantor untuk sarapan. Biasanya pada jam-jam tersebut dia akan meninggalkan pesan di Messenger saya untuk dibaca setelah saya selesai makan pagi di kantin. Terkadang, saya angkut makanan dari kantin ke meja kerja demi sarapan sambil ber-Messenger.

Jam kerja mulai setengah delapan pagi hingga pukul empat sore, tapi saya memilih keluar kantor lewat maghrib karena macetnya jalanan sekitaran kantor cukup bikin malas pulang terlalu sore, mending sekalian malam bisa makan malam dulu dan tidak terlalu macet. Selama jam kerja, dia tak putus saling berkirim Messenger, saya membalasnya ketika tak ada kerjaan yang kejar tayang di kantor. Kami membahas banyak hal; apa saja kegiatan hari ini, makanan, lagu, hingga puisi. Anything we could talk for days, i thought. Rasanya apapun bisa kami bahas seharian, di sela-sela kerjaan kantor dan tugas kuliahnya saat itu seakan tak pernah lupa saling mengingatkan untuk mengutamakan kewajiban. Malam hari selepas jam sembilan adalah waktu bebas saya, jika tidak ada jadwal main futsal biasanya saya habiskan waktu dengan nonton dvd atau membaca. Dia adalah perempuan yang sangat suka membaca, tidak heran jika obrolan soal buku dan novel-novel baru terkadang menghabiskan waktu mengobrol kami via telepon. Waktu telepon yang kami habiskan tak pernah bisa diduga, terkadang sampai saya ketiduran dan dia menutup sendiri obrolan. Obrolan lain yang menyita waktu kami adalah soal rencana perjalanan pertama saya ke Jogja, walau pun saya bilang belum bisa janji kapan bisa kesana namun ia yakin Tuhan akan berikan waktu terbaik untuk kami bertemu. Menjelang akhir tahun, disaat beberapa teman sibuk merencanakan liburan, saya pun mupeng pengen liburan juga. Tapi apa daya cuti belum di acc dan hari libur terlalu singkat.

Awal tahun, dia mengirimkan pesan singkat ke telepon genggam saya; ‘is it February would be nice to meet?’ saat itu saya sedang berada di kantor dan buru-buru saya buka Messenger di komputer kantor.

Me : kenapa dengan bulan Februari?

Her : soalnya itu bulan terdekat dari sekarang (Januari).

Me : ada alasan lain gak kenapa harus Februari?

Her : ulang tahun kita. 🙂

Alasan sederhana namun saya merasa itu adalah saat yang tepat untuk bertemu, tepat di bulan kelahirannya yang juga sama dengan bulan kelahiranku.

Bulan februari menjadi awal perjalanan saya bersama perempuan yang selama ini menjadi ‘reminder’ dan alasan terkuat untuk datang ke Jogja. Ia berjanji akan menjemput di stasiun sepagi mungkin dan membawakan teh hangat, seperti yang saya minta. Setibanya di Jogja, menginjakkan kaki pertama kali di kota yang selalu menjadi cerita kami, disambut senyuman termanis seorang perempuan yang selama ini hanya saya pandangi foto-fotonya, dengar suara meriahnya di seberang telepon dan baca pesan-pesan nya di Messenger.

welcome home…’ sambutnya tepat ketika saya berada di depannya. Senyuman termanis yang pernah saya punya sepagi ini, di kota yang baru pertama kali saya datangi dan ia mengatakan kalau saya berada di ‘rumah’, membuat saya bertanya sembari menyalami tangannya.

home? Why home?’ tanya penasaran saya sembari menggandeng tangan nya menuju peron luar untuk duduk sejenak sembari menunggu matahari menyingsing.

‘nanti juga tahu kenapa saya sebut ini rumah… nanti kamu akan merasakan, cepat atau lambat, kalau kamu selalu pengen pulang ke Jogja.’ Ia menyakinkan dengan jawabannya diiringi senyum dan menyodorkan secangkir teh hangat dari dalam hot tumblr yang ia bawa. Saya menghirup aroma teh panas pertama pagi saya di Jogja dari tangan yang selama ini mengetikkan pesan melalui Messenger setiap hari. Obrolan di peron stasiun pagi itu tak sebanyak yang biasa kami baca di Messenger tapi justru ini obrolan paling hangat yang pernah kami punya. Menatap matanya, senyumnya dan suaranya di depan wajah sepagi ini tanpa perantara adalah hal terindah yang saya punya. Bersyukur pagi saya di Jogja untuk pertama kali dalam hidup saya bersama dia, perempuan yang mulai detik itu menjadi separuh hidup saya.

Cerita Kerja di Hari Pertama.

Selalu menyenangkan menjadi teman berbagi cerita. Meskipun hal yang remeh, kadang cuma pengen pamer, tapi selalu ada hal yang menarik untuk diceritakan dan sekedar dikomentari. Termasuk cerita seseorang tentang hari pertamanya bekerja.

Hari ini ada yang berkantor perdana di kawasan prestisius di sudut ibukota Jakarta, he’s so excited to start his first day earlier sampai harus merubah total pola tidurnya selama ini ke 8 jam dan bangun lebih awal karena jarak tempuh rumah ke kantor adalah jalur langganan macet.

Dia bukan tipikal morning person tapi tuntutan pekerjaan akhirnya mengubahnya menjadi ‘manusia normal’ (itu yang dia bilang) dengan tidur dan bangun di waktu yang normal. Tahu betul bagaimana dia dulu memutar-balik pola hidup; siang jadi malam, malam jadi siang. Bekerja laksana kelelawar, berhari-hari gak pake keluar kontrakan cuma bolak-balik meja kerja-kasur-meja makan-kamar mandi.

Bukan perubahan yang drastis tapi setidaknya dia lebih sehat kalau melakoni pola hidup macam ini. Sebelum resmi masuk kerja, dia punya jadwal jamming di restoran Jepang tiap Rabu dan Minggu. Gak bisa jauh-jauh dari panggung memang, tapi dia bilang sementara harus off karena belum bisa menyesuaikan ritme pekerjaan di kantor baru. Meskipun ini berarti setengah hidupnya akan habis di hadapan layar komputer dan terpaku di meja kerja.

Malam-malam sebelumnya, kami bertukar cerita soal acara jamming di restoran Jepang itu dengan semangat. Tahu betul bahwa ini adalah passion-nya; menyanyi, bersama gitar-nya Cleo & Sora dan panggung adalah jiwanya yang bebas. Dia menceritakan betapa ini adalah saat yang paling dia nikmati, sebelum nanti akhirnya harus memilih duduk di meja kerja dalam kubikel from 8 to 5 everyday. Tapi setiap mendengar cerita soal panggung, i feel warmth touch inside. Seperti ada kehangatan yang dia bagi dengan saya melalui cerita-cerita itu.

Saya hampir tak pernah menanyakan bagaimana perasaannya kalau harus meninggalkan hobinya itu sepenuhnya kelak. Tapi satu hal yang selalu dia yakinkan pada saya; akan selalu ada waktu buat panggung, entah kapan itu tapi pasti selalu ada. Dan ya, saya percaya saja karena melihat dia berada di panggung juga menjadi salah satu hal yang selalu saya nantikan.

Sehari sebelum hari pertamanya masuk kerja di kantor baru, dia mengirim copy email dari rekruiter kantor yang dia ajukan lamaran tempo hari. Both happy and proud, akhirnya dia bisa bekerja di tempat yang lebih baik dan lebih berkembang. Setidaknya itu untuk kemajuan ilmu dan kinerja-nya. Selebihnya ya sudah pasti untuk mendapat gaji yang jauh lebih ‘pantas’ untuk jerih payahnya memeras otak setiap hari. He deserve better.

Pagi pada hari pertamanya, tak lupa terkirim pesan; ‘selamat ngantor di kantor baru. Jangan lupa senyum 🙂 ‘ untuk dia yang pastinya sudah ber-sibuk ria observasi kantor baru. Balasan ‘terimakasih ya 🙂 ‘ datang beberapa menit kemudian. Lalu membiarkan hari berlalu hingga sore menuju petang tiba dan memutuskan menyapa-nya tepat saat dia baru tiba di rumah.

Menjelang petang, selepas saya mengecek ponsel saya kirim pesan singkat untuk dia. Menanyakan apakah dia sudah tiba di rumah atau masih terjebak macet di jalan. ‘Kantor sudah bubar jam 4 sore tapi sayang kalo langsung pulang. Nongkrong di kantor dulu sampai jam 5. Eeh pulang masih aja kena macet. 😐 ‘ laporan pertama begitu saya tanyakan soal hari pertamanya ber-kantor. Saya kurang hafal seberapa jauh jarak kantor ke rumah dia, seingat saya tidak terlalu jauh hanya rawan macet. Lega mendengar dia sudah tiba dirumah sebelum pukul 8 malam, artinya dia masih punya waktu untuk menikmati rumah sebelum tidur cepat dan bangun lebih awal lagi keesokan hari.

Macetnya jalanan kantor sampai rumah lumayan bikin dia menghargai tidur lebih awal sepulang kantor. Ternyata ‘heboh’ juga perjalanan ngantor naik corsa di Jakarta yang aduhai macet-nya itu. Mengalir-lah cerita soal teman-teman baru yang  mostly sudah diatas kepala 3 usianya dan dia yang dengan bangga dikira masih berusia 24 tahun. Saya tertawa, banyak orang mengira dia masih di-umur segitu padahal sebentar lagi juga sudah kepala 3.

Mungkin efek muka yang kelewat mulus buat ukuran seorang pria seusia dia dan bentuk muka yang cukup bisa dibilang ‘cantik’ karena memang mirip bintang iklan sabun muka. Dia sering kesal kalau saya bilang dia ‘cowok cantik’, tapi kadang malah sengaja mau dibilang ‘cantik’ biar disangka masih muda. Muka nya suka bikin saya ngiri berat, mulusnya dan bersihnya itu lho~

Sebagai pekerja baru dan notabene ter-muda di divisi-nya, hari pertama penuh dengan kata ‘belajar’ ; mempelajari berbagai macam berkas, berbagai isu sehubungan dengan pemerintahan dan sebagainya. Dia juga bercerita soal meja kerjanya yang mendapat satu sudut di kubikel yang berada di ruangan luas dengan bilik-bilik bersekat, ‘yah, mirip kaya kantor di film-film gitu lah…’ komentarnya.

Dia berada satu ruangan dengan 4 pegawai lainnya, dalam satu blok berbagi sudut kubikel. Dalam ruang yang berbeda namun masih di area yang sama ada ruang direktur dan kepala sub-bidang yang dia tempati. Dibantu juga oleh seorang front-officer serta seorang officeboy. Tidak terlalu ramai untuk ukuran ruang kerja bersama namun cukup heboh menurut dia. Apalagi untuk ukuran pegawai baru yang belum akrab, posisi meja kerjanya cukup intimidatif, komentarnya.

Serunya cerita sepulang kerja di kantor baru yang cukup ‘heboh ini diakhiri pamitan mau tidur adalah salah satu dari beberapa hal yang harus disyukuri hari ini dan insyaallah setiap hari. Mungkin biasa saja tapi bisa berbagi hal semacam ini adalah kebaikan yang kami tanam untuk nanti. Entah apa yang akan kami panen tapi insyaallah itu bermuara pada kebaikan. 🙂

Tetap semangat bekerja ya, wahai pegawai baru. Jangan lupa tersenyum. 🙂

Ps: si pegawai baru yang ada dalam cerita ini akhirnya resign setelah 8 bulan bekerja. Bukan karena tidak cocok tapi kontraknya habis. 😀 [di-update Januari 2016]