Una mica atractiu.

A Little Pieces of Ours

morning haters.

kalau saja ada yang pernah membenci pagi, itu lah saya. membenci pagi yang ‘terlalu’ ; terlalu  dingin, terlalu panas, terlalu berisik, terlalu sepi, terlalu sibuk, terlalu nothing-to-do. begitulah pagi yang sekiranya saya benci. tidak menarik, bukan?

 ya, sama tidak-menariknya pagi yang masih saya benci dan ketika bersama kamu. setiap pagi menjelang kamu berpendar hilang. mengakhiri pertemuan-pertemuan panjang kita, menutup diri pada kesembunyian yang terlalu lama…

sekejap pagi akan berlalu ditantang panas matahari, tapi tidak begitu dengan kita. yang terlalu enggan menyudahi segenggam waktu yang dihentikan luka ; berentangan ingin, saya, kamu.

tolong, jauhkan pagi yang ku benci ini, acap kali ingin ku dapati kamu berada di penghujungnya. penghujung yang sepi, dingin dan singkat. seperti sang pagi, yang teramat ku benci.

two cups.

seperti hari-hari sebelumnya,

keduanya memulai hangat yang sama dalam awal pagi yang sedikit dingin, satu tertuangi kopi yang pekatnya senada dengan lingkaran hitam dibawah mata, satunya lagi tertuangi air teh kemerahan yang semerah gincu yang terpulas di bibir perempuan yang kerap tampil di tv. mereka tak pernah tahu siapa mengambil siapa, siapa menyesap siapa, siapa meneguk siapa, ketika ruang dalam diri mereka makin kosong maka itulah saat dimana mereka harus beringsut ke bak cuci piring dan tinggal dengan noda di sana beberapa lama.

satu sore yang terlalu redup, di sebuah ruang makan yang bahkan tak nampak secuil penganan pun. kering.

keduanya kembali tiba di meja kayu, meja makan yang terlampau sering mereka singgahi pagi-sore-malam. tanpa siang, karena siang adalah waktu bagi gelas-gelas bertangkai tinggi dan bening menjajah meja dipenuhi warna-warna jingga yang terang namun dingin. ber-embun. ber-kristal. se-dingin ritme waktu yang terurai di siang yang biasa. Tapi ketika sore tiba, ini waktu kami, gumam mereka. bangga. mereka punya sepertiga hari di atas meja yang sama dan dalam genggaman berkeliling rumah kesana-kemari.

mereka ada dalam meja yang sama, bersisihan dalam keriuhan perbincangan dan kepungan asap-asap nikotin yang membubung di penjuru ruang.

mereka menawarkan sensasi menghangatkan yang sama, panas namun nyaman. layaknya tiupan kepulan uap kopi seduh tanpa gula dalam pagi yang terlalu biasa. Tapi hari ini mereka berbeda, hanya berjarak 3cm dari lengan mereka masing-masing yang ber’kacak’ bisu, menghadap pada sudut yang sama, memandang pada jarak yang berdekatan. hanya ada kepulan hangat menjawab.

sampai kapanpun,

keduanya tak kan pernah saling tahu apa yang selama ini telah mereka bicarakan, dalam cangkir mereka masing-masing.

terlalu banyak mau, terlalu banyak ingin, terlalu banyak harap.

in silent’s riot

love comes from everywhere, even from a piece of song.

percakapan yang biasa, suasana keheningan malam dan kesibukan di jemari masing-masing. dua manusia berbeda jenis kelamin berada dalam dimensi spasial yang berbeda beberapa kilometer. si perempuan yang menggemari bau tanah basah disertai secawan teh ber-aroma bunga, si laki-laki yang teramat sibuk dan lelah untuk sekedar membaui tanah basah sehingga lebih suka menatapnya dengan strato, benda bermusik kegemarannya.

mereka tak melulu mengobrol, hanya diam dalam keriuhan hati si perempuan dan melodi musikal di kepala si laki-laki. sesekali si perempuan melontarkan celoteh ringan yang ia sampaikan dengan nada paling biasa kepada si laki-laki yang mendengar dengan mata tetap tak berpindah dari jemarinya yang menari di strato-nya namun menimpali dengan senyuman simpul tanda setuju bahwa apa yang si perempuan katakan adalah hal yang lucu. sederhana namun bermakna, dari sanalah pembicaraan paling riuh di antara mereka terjadi.

ketika si perempuan memilih diam, ia mendengarkan rangkaian kata si laki-laki yang antusias melantunkan cerita mengenai apapun yang ia suka ; mulai dari perkara uban yang tumbuh lebih dini, lagu yang terlalu panjang, jalan yang terlalu bergelombang hingga perkara senar putus. semua bisa jadi menarik di telinga si perempuan, sehingga anggukan kecilnya, sorot mata antusiasnya serta berkerutnya dahi menjadi penyemangat tersendiri bagi si laki-laki.

ketika si laki-laki asik dengan jemarinya yang menari diatas senar gitar, meskipun terkesan tak memperhatikan namun telinganya waspada, mendengar setiap celotehan si perempuan yang gemar sekali berbicara panjang lebar tak tersela layaknya rentetan bombardir senjata api. sesekali dia tersenyum, mengangguk ketika si perempuan mengulang atau memberi penekanan pada kata-kata tertentu. seakan itu adalah hal yang wajib ia perhatikan lebih, seakan mengatakan bahwa ini hal yang penting untuk si perempuan.

keriuhan mereka terjadi disaat-saat yang paling sunyi: diam. Kesunyian mereka terjadi di saat mereka asyik bersahutan dalam sebuah perbincangan: obrolan yang (terlalu) menarik.  Terkadang ada yang terlalu menarik bagi mereka jika dibicarakan, mereka pun memilih menuliskan dalam sebuah lagu, lagu yang hanya mereka yang bisa menyanyikan.

disanalah mereka menutup percakapan, disanalah mereka mengakhiri perdebatan panjang, dengan itulah mereka menyimpulkan kebersamaan.

could save, will borrow.

cobalah memandang persoalan yang menyakitkan dari sisi positifnya.

kaya’nya gampang sekali bilang semacam itu ke orang atau teman yang sedang dirundung duka atau masalah pelik, namun gimana ya kalo saya yang jadi si ‘korban’ yang harus sekuat tenaga meyakini bahwa sarana temannya ini cukup aplikatif dan mujarab? :/

Coba saya membayangkan sejenak, menempatkan diri saya di posisinya, dan mencoba menguak lagi problema lama saya yang mungkin se-level atau bahkan sama kasusnya. Taruhlah si teman habis patah hati, diputusin atau ditinggal pergi sama orang yang paling dia sayang lah. Tidak melulu perkara pacar lho ini tapi lebih kepada sebuah rasa ditinggalkan dan kehilangan, bisa saja dari keluarga atau teman atau saudara.

Bagaimana kah sebuah rasa kehilangan/ditinggalkan itu kemudian hinggap? Pertama-tama mungkin menurut pengalaman empirik sih, semacam terbentuknya lubang tak kasat mata di dalam hati, dada ini seolah ditekan beban yang berat namun tak nampak yang kemudian bikin saya mau bernafas saja susaaaah sekali. Menangis? oh tunggu dulu, kalau persoalan airmata tidak bisa dipukul rata. Karena kadar ketebalan dinding tandon airmata tiap orang berbeda. Saya pun tidak melulu mengurai airmata ketika sedih/kehilangan/ditinggalkan tapi yang pasti dirasakan ya perkara ‘lubang besar’ dalam hati itu tadi. Katakanlah saya di persoalan ini tidak mengurai airmata (yah meskipun untuk persoalan yang lebih remeh dari ini pun saya lebih cengeng. hehe ), namu perasaan serupa mungkin juga dirasakan si teman tersebut. Oke, i got the one same point here: a heart matter.

Apa yang dirasakan hati saya, hati teman saya dan mungkin juga hati-hati orang selain kami, itulah saat dimana sebuah rasa mulai membentuk makna dan efek yang berbeda-beda. Ketika gelombang “lubang besar’ datang dan menerpa, mungkin sebagian saya belum merasakan apa-apa, cuma sesak saja. Tapi bagi sebagian orang lain, bisa jadi sudah nangis tanpa henti seharian sampai mata bengkak. Who really know how deepest our heart is?

Kira-kira, saya ingin menyatakan bahwa berhati-hatilah ketika mengatakan rasa simpatik dengan sederatan kalimat ini: “sabar ya, aku tau perasaanmu.”; “tenang, aku tau apa yang kamu rasakan, kok” — are you sure you exactly know it all? Tidak menjamin. taruh lah kita sama-sama pernah menghadapi peristiwa serupa namun tokh tetap saja berbeda, kan? Tokoh, tempat, waktu, suasana saja sudah berbeda apalagi ini perkara perasaan. Don’t be too wise or you will look more cruel with your own words. :p  agak jahat juga sebenarnya ngomong macem begini tapi that’s the truth. Tidak ada masalah yang benar-benar sama antara sesama manusia. Kalau pun ada yang sama persis, itulah kebetulan. :p   Tapi sejatinya, setiap orang punya ‘bingkai’nya sendiri dalam masalah yang hadir.

Memaknai sebuah rasa kehilangan/kesedihan, memang ada banyak cara. Umum-nya paling juga pasang muka sedih, setel lagu-lagu menyayat hati dan urai-lah airmata sederas mungkin. Atau bisa juga tidak melakukan ‘pakem’ yang ada tapi justru melawan dengan senyuman, optimis dan kembali bangkit melangkah ke depan. Taaaapii ya, semuanya ga segampang kata Mario Teguh lho ya. :D    Everything takes time, dan terkadang durasi mempengaruhi performa seseorang di kemudian hari. Makin lama waktu untuk bangkit maka makin kelihatan susah maju, kaya’nya hidupnya cuma stuck disitu-situ aja. Terkadang, orang semacam ini (ya mungkin semacam saya juga kali ya? hehe) seperti meratapi kedukaan, mencoba mencari dimana yang salah/ siapa yang salah, menghitung-hitung ulang jumlah ‘kehilangan’nya dan tetap yakin bahwa semua ini pasti sedikit banyak disebabkan oleh kesalahan yang dia perbuat. Hmm, bisa jadi tapi bukan satu harga mati. Terkadang hanya ingin me-rewind kejadian karena (mungkin) ada satu waktu yang sebenarnya disitulah letak masalah sebenarnya; pengulangan akan sesuatu yang sudah diketahui salahnya dimana.

So, which one would you take for healing the problems? diam, merenungi, me-rewind kejadian dan menerka-nerka apakah bisa saya perbaiki seperti sedia kala? *saya jawab saja: tidak juga dan tidak usah begitu juga, kali.*Atau kah mencoba memikirkan solusinya saja tanpa harus me-rewind kejadiannya dan ambil poin penting saja? Kadang, kita hanya mau menyimpan kejadian-kejadian ‘baik dan indah’ saja sebagai obat ketika kejadian buruk menimpa. Namun, justru sebenarnya ‘good memories’ itulah pembunuh paling kejam; ia membunuh perlahan hingga kita tidak sadar telah terbunuh. Hasilnya? ya jadi susah move-on itu tadi karena bayangannya nanti kan masih ada hal baik seperti yang diutarakan si ‘good memories’ itu. Susah kan? Lalu gimana dong enaknya? Masa iya kita tidak boleh menyimpan kenangan apapun, baik pahit maupun manis? Menyimpan itu konotasinya ‘menaruh dalam jangka waktu yang lama’, ya jelas tidak baik lah untuk kita. Bagaimana kalo meminjam? Meminjam kenangan-kenangan sejenak, lalu kembalikan ke tempat semula; masa lalu. Caranya? selalu ingatlah kita punya hari ini, hari nanti dan hari esok untuk direncanakan, dijalani dan ditempatkan pada tempat yang semestinya. Yah, kira-kira seperti itulah. Dan pastikan hidup ini setidaknya berbeda dari detik ke detiknya.

Sound so simple, don’t ya? :)

#listening to: Andre Harihandoyo and Sonic People – The Break Up

fic-tion

berlari sejauh mungkin, berlalu selama mungkin, beredar kemana pun kaki mau…

aku menyebutnya sebuah perjalanan, ada kalanya aku hanya bersama kaki ku, ada kalanya aku bawa serta ‘teman’ yang lain. Demi setiap langkah yang tertapak menjauhi tempat aku semula berdiri dan demi setiap jarak yang makin melebar, aku memulai setiap langkahku bersama sebuah tulisan “ayo mulai sesuatu yang baru dalam setiap pagimu” di genggaman jemari.

kalau aku terbiasa memulai pagi dengan membuka jendela sebelum membuka pintu, kini aku lakukan sebaliknya. Kalau aku terbiasa mencuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu sebelum menghadap meja kerja dan memulai pekerjaan merangkai karya fiksi yang panjang, kini aku memulai dengan sebaliknya, pula. Dua hal pertama, merubah sebuah pagi yang sebelumnya nampak biasa saja menjadi berbeda.

Kini saatnya merenda ribuan aksara dalam layar. Kata pertama tertulis:

mentari.

Berikutnya akan terenda ribuan kata memuji betapa mengesankannya sebuah pagi yang cerah dan tidak sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

Tepat seperti apa yang aku lakukan pagi ini. Tepat sama dan aku serasa menuliskan diriku dalam karya ku, karya rekaan yang membuai dan memberikan sensasi meyakinkan siapa pun yang membacanya seolah semuanya adalah nyata. Sungguh hebat jari-jemariku untuk perkara yang satu ini. Sungguh hebat, sama hebatnya dengan daya khayal tentang aku yang selama ini dihidupkan dalam benak alam pikir terdalam yang tak pernah berhenti merenda kisah-kisah penuh harap, harapan yang tak pernah terpikir oleh ku sebelumnya.

Sama halnya kisah fiksi yang aku renda pagi ini, sama halnya aku mempermainkan alam bawah sadar ketika membaca setiap kisah fiksi yang begitu membuai dan menyedot dalam sebuah hyper-realitas baru. Sungguh tak akan pernah disangka kalau ternyata sedang ter-fiksi?

aku tertawa. betapa rentetan aksara ku begitu hebatnya membawa semua ke dalam sebuah realitas duniawi. Betapa aku terlalu tangguh untuk sekedar membawa diriku sendiri dalam sebuah fiksi; sebuah rutinitas setiap hari ku yang orang menyebutnya sebagai pekerjaan tanpa ‘kerja’ namun inilah kerja yang aku selami selama ini. Seorang tukang ketik tulisan kisah fiksi adalah sebuah pekerjaan yang paling aku nikmati setelah melewati belasan pekerjaan berbeda tiap waktunya. Aku menikmatinya layaknya kamu menikmati sebuah rekaan pikir yang tak berkesudahan.

Menyenangkan bukan?

Aku semakin menikmati pekerjaan ku ini, setiap hariku bisa menjadi bagian dari kisah fiksiku. Dan itu berarti pekerjaan ku adalah sebagian dari hidupku, entah yang mana yang lebih dahulu terlahir, mereka pun bisa bertukar posisi. Sungguh hebatnya hidup dan kisah fiksi karya tangan dan jemariku melebur dan mengaduk-aduk segala batasan pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan yang aku miliki, pikiran dan perasaan yang termiliki oleh yang lain.Dan perjalanan selalu dimulai disini, ketika banyak pikiran dan perasaan mulai berjalan dengan arah dan tujuannya masing-masing, mencoba mencapai arah dan tujuan yang mereka kehendaki.

selamat datang di dunia yang selama ini (pura-pura) diketahui sebagai dunia yang paling dipahami. Selamat datang dalam dunia yang tak pernah bisa diterka kemana arahnya. Selamat datang ke hyper-realitas yang telah aku aduk bersama dalam sebuah cawan cerita penuh aksara dan makna.

kira-kira kemana nanti akan terbawa semua kisah fiksi ini? bukan kemana-mana dan bukan dimana-mana.

Pagi ini kisah fiksi dimulai oleh mentari dan sederetan pencitraan tentang pagi yang begitu hangat dan nyaman layaknya sebuah gazebo teduh di tengah taman rumah nan asri. Pagi ini kisah fiksi dibumbui inspirasi ribuan kata dari perasaan yang aku sendiri tak tahu apa namanya; perasaan yang tiba bersama senyum seorang tukang koran melempar media cetak – melintasi pagar rumah setinggi lima meter menjulang dengan gagah. Itu pertanda bahwa pagi belum lewat dari pukul lima. Masih ada banyak waktu untuk menikmati pagi, menikmati segenap kisah yang terus mengalir bersama berlalunya hari. Aku masih punya banyak kesempatan membentuk seyum di wajah teruntuk yang nanti akan hadir dalam siang – senja – malam – fajar.

Hebatnya, cuma ada aku dan kisah fiksi dalam tulisan ini. :D

good quote :)

..waktu menyeret aku ke tiga tahun silam, pertama kali aku dipertemukan Tuhan dengan sosok yang bernama ‘kamu’. Tuhan saat itu begitu baiknya kepada aku, menyiapkan sebuah pertemuan paling sempurna yang pernah aku alami; sebuah bangku di stasiun kereta tua, secangkir teh panas mengepul dan tak lupa, keterasingan di antara kita. Aku tak pernah mengenal kamu, begitu pula kamu tak pernah mengenal aku. Ini lah kali pertama kita berada dalam satu udara yang sama, bukan lagi berjarak getaran sinyal radio tingkat satelit yang rumit dan tanpa harus menerka seperti apa. Ini lah kita, dalam satu bingkai hari yang masih terlalu dini, dingin dan menggigit sampai ke tulang, ini lah saat yang kita nantikan; menemui dalam nyata.

setahun berselang, kamu masih tetap pada wujud yang Tuhan sampaikan seperti setahun lalu, bisa ku temui di sela-sela rindu yang menderu dengan waktu yang teramat cepat berlalu. Aku sendiri tak yakin, apakah itu benar adanya kamu yang senantiasa menjumpai aku dalam deru waktu yang memburu? atau kah hanya pertanda bahwa kita nampak tertuju pada bias rasa yang makin hari makin menjauh dari kata ‘satu’. Lagi-lagi, Tuhan mencipta semua terlampau sempurna bagi aku, mungkin juga kamu, bahwasanya hari yang terlalui nampak seperti hari biasa yang tanpa cela. Segalanya nampak tiada berbeda, karena kita memaknai berlalunya waktu dengan deretan doa-doa pendek yang senantiasa terlontar di penghujung hari kita menyudahi satu ‘rancangan’ indahNya.

dua tahun terlewati, kini aku mulai menyadari bahwa Tuhan tak lagi memahami. Setiap doa dan pinta tak ber-jawab lagi sama. Aku hanya menemui suara-suara penuh ragu dan takut, kamu menjelma menjadi sederetan ucapan-ucapan yang bak nyanyian dalam rona pendengar di kala waktu menenggalamkan segala cahaya, kata yang aku ingat sebagaimana deretan doa panjang terpanjatkan kepada Tuhan. Kini kamu ada di sana, di dalam doa yang terpanjatkan kepada Tuhan lewat getaran haru dan rindu yang aku eja tiap detaknya lewat tetesan rasa duka di ujung indera penglihatanku. Ini adalah waktu yang selama ini aku doakan pada Tuhan agar tidak pernah tiba; ini lah waktu yang aku hapuskan dari setiap mimpi-mimpi pendek di sela-sela pembaringan malam kita. Tuhan, kini aku mengerti. Engkau jawab doa ku, benar adanya Engkau-lah penjawab setiap rentetan kata penuh makna dalam setiap diam ku di kala kamu terlelap di sisi ku. Tuhan, betul Engkau jawab sudah doa ku. Tepat hadirnya jawaban doa ku dengan ribuan doa baru yang aku panjatkan di kala melihat punggungmu berlalu di antara ratusan orang dalam riuh rendahnya sebuah terminal penerbangan…tanpa ada doa terbisik di telinga, tanpa ada kata Tuhan dalam ucapan tersingkat di saat aku terhenyak sesaat; selamat tinggal.

kini, setelah tiga tahun berlalu…semua masih tetap sama. Tuhan masih sering ku kirimi doa-doa pendek dan panjang atau bahkan teramat panjangnya, entah Tuhan mulai dari mana tapi aku yakin Tuhan membaca semuanya. :)    sekian lalu tidak ada lagi kamu dalam tahun ini, bukannya tidak ada sama sekali tapi kamu masih rajin sesekali ‘nebeng’ Tuhan mendatangi aku meminta waktu istimewa untuk bertemu dengan aku. Akh, kamu masih saja sama seperti dulu, selalu mau di-istimewakan oleh aku. ;)    Kamu tetap seperti biasanya, aku tak pernah merasakan kamu menjadi berbeda, hanya….Tuhan yang kini sedikit berbeda. Tuhan makin lama makin membatasi waktu-waktu singkat kita untuk sekedar bersua atau bahkan bertukar suara, entah mengapa Ia kini begitu angkuhnya pada kita, seolah kamu telah merebut sesuatu yang amat berharga bagiNya, sesuatu yang amat Ia jaga selama ini, sesuatu yang amat Ia sayangi dan tidak ingin kamu merusaknya atau bahkan mendekati barang sejengkal pun. Aku merasakan, betapa Tuhan begitu cemburu…

Benar saja adanya, kamu tak lagi datang dan Tuhan begitu over-protektif pada aku. Tuhan bahkan tak memberikan sedetik pun waktu bagiku untuk mu, bahkan untuk sekedar merasakan getaran suara mu di telingaku pun tidak. Tuhan kini menjaga aku dalam sebuah masa yang sungguh berbeda yang tak pernah aku, atau bahkan kamu, bisa memahami dimana – ada apa – bagaimana. semuanya nampak berbeda. Dan Tuhan selalu begitu…selalu mengingatkan betapa posesifnya Ia padaku. :)    Tuhan bilang, tentu saja lewat beberapa pucuk ‘surat’ yang datang di sela-sela kee-tidak paham-an ku, setelah aku menemuimu di bangku tua sebuah stasiun kereta saat itu, aku dan kamu telah membuat Tuhan begitu iri. Kita telah membuat seisi dunia memandang iri, bahkan Tuhan pun jua. Kita terlalu sempurna menciptakan sebaris keindahan dalam rasa yang memang hanya kita yang mengerti, kita punya terlalu banyak senyum untuk aku dan kamu bagi setiap waktunya, terlalu rumit perasaan yang teraduk dalam setiap perbincangan pagi-siang-sore-malam kita, terlalu banyak cinta yang kita punya untuk membungkus setiap kala yang terbentang dalam hari-hari yang terhabiskan bersama. ada banyak ‘terlalu’, dan Tuhan pun merasa tak pernah kita bagi dengan semuanya yang ‘terlalu’. Tuhan memberikan aku begitu banyak ‘terlalu’ dan sampai detik ini pun aku masih mengira bahwa kamu lah yang berhak berada disini bersama dengan ‘terlalu-terlalu’ kita yang membahagiakan itu…

Memisahkan kita, satu-satunya cara Tuhan mengingatkanku kalau aku milikNya seorang.

Welcoming 2012!

hello 2012~~

feels like a year not posting here. :p

actually it’s been a month i’ve tried to post a new one here but bad luck for me, i’ve been on final exam this early month for 2 weeks and at the same time, i don’t have any connection to the internet since my computer was ‘breakdown’ so it can’t connect through the modem at all. :/

quite annoy me much, so far. but now i get connection back. :)

okay, what’s new on this early year? since i’ve celebrate the new year eve with my lovely niece watching fireworks on the city spot; Tugu Jogja was very awesome. in the next following week i had final exam untill middle of month. fiuh!
this month will end in less than a week, so i’ve still hoping this month will bring me happiness for all of you.

cherio~~

(Les)Lie dan Soka-nya

hai. sebut namaku Leslie. atau boleh kau panggil aku lie (baca: liye). bukan dalam pengucapan bahasa inggris tapi cukup begitu saja, aku tak suka orang mengartikan namaku itu. karena aku tak pernah seperti itu. tak pernah berbohong.

setidaknya hingga aku bertemu dia. jauh dari kisah dalam mimpiku, he’s my real dream. ya, mimpi yang nyata bisa kuraba hadirnya kapan pun ku ingin. Dia kutemui lewat sepotong rel kereta api menuju senja-nya Kota Seribu Mimpi. tidak di atasnya tapi disampingnya, dengan posisi berhadapan. saling menerka, apakah benar kita sedang memikirkan hal yang sama? ku sebut ia Soka. nama yang terlalu ‘cantik’ untuk seorang laki-laki namun tepat bagiku; ia-lah mimpi ku yang cantik itu.

Soka tak pernah berhenti tersenyum ketika bersamaku, seperti halnya aku. Ia selalu memanggilku “Lie cantik” sambil menatap lekat mataku, terlalu lekat hingga ujung hidungku yang terlalu panjang ini menyentuh hidung mungilnya. Berjalan tak pernah melepaskan genggaman tangannya padaku.

well, I’d never want to see you unhappy
I thought you’d want the same for me.

Ketika tiba perjumpaan ku dengannya yang ke-300 sekian, Soka memberikan sebuah ‘kotak mimpi’ berhias pita hijau, “ini penjagamu selama aku tak berada di hadapan pandangan matamu, Lie cantik. simpan sampai aku kembali ya…”. Senyumku mengantarnya meniti ratusan potong rel menuju Kota Seribu Mimpi, dimana Soka meraih cita-citanya dan asa-nya untuk dirinya yang lebih baik…….dan juga untuk sepotong cinta-nya yang teramat dalam tertinggalkan disana. ya, sepotong cintanya Soka yang ber-ratus hari disulamnya dikala mataku pergi darinya, ketika telingaku tertulikan nada bicaraku sendiri, ketika hatiku terlampau jujur padanya.

we walked along a crowded street,
you took my hand and danced with me,
images
and when you left you kissed my lips,
you said you’d never, never forget these images.

‘kotak mimpi’ Soka tetap berada dalam genggamanku, menantikan jiakalau dia menanyakan padaku lagi. Ratusan hari, Soka hanya datang lewat mimpi, tepat seperti apa yang dia harapkan. ‘Kotak mimpi’nya membawa Soka padaku, setiap malam dan ku mengeja tanya yang sama; ‘kapan kau datang di nyataku, Soka?’ namun senyumnya saja yang tersisa. Tetap seperti biasa, senyum yang sama persis ketika ia bersamaku. Apakah Soka lupa jalan pulangnya? Perasaan campur aduk menantikan kabar Soka, aku sudah hampir lupa apa aku ini pernah berkata salah padanya? mencoba mengingat apa ada yang aku lupa dari pesannya? sebegitu lamanya ia mencipta sunyi dalam jeda ratusan hariku. Ku mulai merasa lelah… akankah Soka merasakan hal yang sama?

goodbye my almost lover
goodbye my hopeless dream
I’m trying not to think about you
can’t you just let me be.

Ia takkan datang lagi. hanya seutas suara dalam kotak berbicara yang aku terima.

`Lie cantik, Lie-ku tersayang…maafkan aku sedemikian lama mencipta sunyi bagimu. Ku rasa sudah saatnya kau lepaskan perasaanmu padaku, seperti apa yang telah ku lakukan padamu selama ratusan hari lalu, Lie. Hatiku telah melepasmu…`

Aku tersenyum tipis, mendengar ucapan Soka yang begitu ringan…lepas dan bebas dari beban. Melegakan sekali apa yang telah ia lakukan. Aku tersenyum seraya mantap menjawabnya;

`Aku juga telah lakukan hal yang sama kepadamu, Soka-ku. Ku lepaskan perasaanku padamu…biarlah trbawa mimpi-mimpi ke angkasa. Aku rasa aku lega mendengarkan semua ini darimu, Soka. Dan kini, hatiku telah mantap melepaskan mu jua…`

Percakapan sederhana, kata-kata yang ringan terlontar, saling memberikan keyakinan, sama-sama terucap dengan nada yang tenang dan melegakan. Inilah kali pertama ku, seorang Lie yang tak pernah berbohong, mengingkari kebenciannya sendiri. Bahkan kepada dirinya sendiri.

so long my luckless romance
my back is turned on you
should have known you’d bring me heartache
almost lovers always do.

Soka tau aku tak se-kuat yang dia kira, ia tahu aku hanyalah Lie yang lemah padanya…terlalu lemah untuk sekedar berpaling. Tapi Soka telah menjadikan semuanya mungkin, nyata aku alami. menjadikan seorang Lie berbohong pada dirinya sendiri, menipu hatinya yang hancur dengan kata ‘aku baik-baik saja’ beratus kali, mengelabui pikirannya dengan berbagai hal lain ketika semua tergambar tentang Soka, mantap melangkah menjauhi masa lalunya dengan kaki terseret kenangan Soka. Aku membohongi diriku ribuan kali, lebih banyak dari hari-hari yang telah ku lewati bersamanya.

Leslie tak lagi ada untukmu, Soka. Lie cantik-mu kini telah memulai hidup barunya, tentu saja tanpa Soka. Soka-ku yang mengembangkan senyum termanisnya di sisi sepotong rel kereta tujuan Kota Sejuta Mimpi dengan pelukan terhangat dan erat-nya yang aku rindukan. hingga detik ini aku masih berbohong. masih berbohong tentang hal yang sama.

–end–

on (your) knees

Lutut pun bisa bercerita. seberapa lama ia berlutut…atau bahkan bersujud.

ketika saya mengingat sejauh mana saya memaknai tubuh saya, saya bisa saja berujar; “saya wanita. saya muslimah karena saya pakai hijab (jilbab).” boleh saja,kan? Itu salah satu cara saya memaknai diri saya. tubuh saya. Hingga satu sore, saya sedang mengobrol dengan seorang sahabat di sebuah gerai kue dan minuman. we’re sit on the sofas, right in front of glasses-wall that surrounding the shop. Ada refleksi kami terpantul lewat dinding kaca tersebut. Iseng-iseng si sahabat nyeletuk;

“eh, kapan si elu mau punya pacar? masa iya dua tahun gini-gini aja?”

terkekeh. sudah berapa kali si sahabat ini memutar kaset-nya di depan saya? pertanyaan yang familiar. bahkan untuk kami yang sudah hampir 6 tahun bersahabat dan setahun kemarin gak ketemu karena si sahabat studying abroad.

sampe kapan pertanyaan ini bakal gue denger?” sahut saya seraya mencubit lututnya.

“yaa..kira-kira berbanding lurus lah sama ke-masa bodoh-an elu soal ini. Hahaha..”

kami pun terbahak bersama. Lutut kami beradu di sofa sempit ini, seolah ikut tertawa juga.

our knees. :)

Kira-kira sampai kapan ya saya meng-amin-i pertanyaan si sahabat ini? tiba-tiba saja terlintas; apakah ini saatnya meng-amin-i dengan menargetkan diri saya ber-pacar segera? menyerah? ber-lutut pada kebebasan yang mahal ini? hahaha :D no need to take it so seriously. saya sadar si sahabat ini mulai khawatir pada saya, khawatir kalau- kalau saya sudah menyerah dengan keadaan sampai dua tahun ini berdikari dan ‘menempel’ kemana saja, kepada siapa saja.

that’s the time for my knees to tell the story. :p

Lutut saya ini lah yang lebih tau seberapa dalam saya pernah ‘berlutut’ pada sesuatu. Bisa jadi suatu pemujaan, penyembahan, penyerahan diri atau penghormatan. Semua hal yang bisa di-representasikan dari sebuah kegiatan oleh lutut. Tapi bagi saya, lutut ini adalah tumpuan tubuh saya, diri saya. Lalu apa hubungannya dengan obrolan si sahabat tadi? hmm, singkat kata saya cuma mau bilang; saya belum menyerah. Saya masih memperjuangkan banyak hal, lutut harus menjaga badan saya tetap tegak berdiri, kokoh dan kuat. Seperti halnya ketika urusan hati ini kembali dipertanyakan berulang-ulang, nampaknya saya cuma mau membiarkan semuanya berjalan sendiri saja. :)

Saya tidak munafik. Saya pernah ber’tekuk lutut’ untuk seorang laki-laki yang amat sangat saya cintai. Laki-laki yang pertama kali memberikan saya ‘lutut’nya sebagai tumpuan saya ‘berdiri’ di kala tak mampu. Sebegitu cintanya saya, tidak pernah merasa bahwa selama ini saya meng’hamba’ padanya, begitu ‘memuja’nya seakan ‘menyerah’kan seluruh hidup saya padanya. Ketika laki-laki ini berdiri, berbalik arah kemudian pergi, bayangkan hidup tanpa lutut-mu. I can’t even feel my feet. Everything was totally lost, for me.

saya tahu, saya salah ‘berlutut’. Maka dari itu, saya tidak mau lagi sembarangan berlutut… tanda penyerahan diri saya. Harusnya itu cuma hak-Nya; si Pemilik Hidup ini. Mengingatkan bahwa di bawah lutut masih ada kaki, yang bisa membawa saya berjalan, melompat bahkan berlari, as far as i want. Wherever. Itu lah saya yang sekarang, bukan sekedar menepuk lutut yang ‘sempat’ tersandung/terjatuh ke tanah tapi juga menegakkannya bersama sang kaki.

those feet. ;)

Sepasang kaki saya akan membawa saya ke arah yang saya suka, dimana semuanya seharusnya berada. Tentu saja atas kehendak-Nya. :) well life always bring me something new everyday. Tak pernah direncanakan tapi terjadi begitu saja. Coincidence? no, i think. it’s a destiny. <3

keep healthy and drink more water,please. :p

20-11-2011

hmm. almost at the end of November.

apa yang mau saya ceritakan? banyak. banyak sekali.

dalam sebulan ini, hampir bermacam kegiatan saya lalui. mulai dari urusan kampus (kuliah – tugas ), diskusi-diskusi dengan teman dan juga diri sendiri. wow, ternyata hidup saya cuma seputaran itu saja? ahahah, saya justru baru sadar kalo hidup saya membosankan. iya, membosankan tanpa variasi. kaget? sedikit sih.. karena saya yang menjalani kok rasanya capek sekali ya? padahal ya cuma gitu-gitu saja. Kalo teman saya bilang; ‘yang capek itu pikirannya,lin. bukan badannya’. Hmm, masuk akal. So, hows next? Pikiran saya seminggu ke belakang ini habis memikirkan hal-hal tidak penting. Selalu begitu. nampaknya ‘penyakit’ jaman SMA ini masih betah saja dan makin parah di kala saya seharusnya menunaikan tumpukan tugas membaca buku-buku yang menggunung di meja belajar saya serta memenuhi halaman-halaman paper midterm. Phew!

Sedikit berbagi cerita.

Sabtu lalu (19/11) adalah hari mingle se-Jogjakarta, dimana lebih banyak waktu di luar kost, menemui teman-teman atau siapa pun. Pokoknya do something else than sit along day in your study desk. Siang hari saya ketemu sahabat masa kuliah sejak S1 sampai S2, Jinan. Memang janjian mau ketemu+diskusi (cailaah..) di satu tempat. Singkat cerita, kami share masalah yang serupa; menghadapi diskusi dengan orang yang ‘ngeyel’. Seru juga, banyak tukar info+ide tentang betapa orang ‘ngeyel’ itu sebenarnya pribadi yang merangsang efikasi berpikir. Bagaimana pun, melawan bukan lah bagian dari diskusi, lebih baik memang ‘memaklumi’. Tidak semua orang bisa menerima cara berpikir kita. Nice, Jinan. :)

Malam harinya, masih di hari Sabtu yang sama, saya kembali menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat saya tercinta; Tania, Rizal, Linggar dan Koko. temanya masih sama; diskusi. Tapi kali ini bukan perkara serius tapi perkara remeh-temeh yang menggelikan. Pokoknya apapun yang bisa ditertawakan bersama, itulah yang kami bahas. Hasilnya? very refreshing! :D menangkap semua suasana nyaman dan hangat, bertukar cerita lucu, secangkir kopi dan makanan enak, it’s priceless moment. Dan ini selalu menjadi hal favorit saya sepanjang mendiami Jogjakarta. :)

and now, already Sunday (2o/11) dan tanggal hari ini bagus; 20-11-2011. Dijamin hari ini banyak kawinan, jadian atau sekedar hari bersejarah lainnya. Hmm, kalau buat saya apa ya hari ini? I don’t know,either. Baru beberapa jam terlalui, masih ada dua puluhan jam lagi yang harus dilewati dalam tanggal manis ini. Let’s see.

oiya, for your information saja, now im starting tu put a new life on the line. Apakah itu? hmm, not to mention on it’s detail ya tapi pendek kata, saya memulai menata hati dan hidup saya dengan menutup hal-hal ‘lama yang menyakitkan’ serta benar-benar meniti jalan yang baru. Setidaknya saya cuma ingin move on lebih jauh, bukan sekedar merangkak atau merayap tapi setara berlari. Hope so. :)

keep healthy and drink more mineral water,ya. ;)

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.