cobalah memandang persoalan yang menyakitkan dari sisi positifnya.
kaya’nya gampang sekali bilang semacam itu ke orang atau teman yang sedang dirundung duka atau masalah pelik, namun gimana ya kalo saya yang jadi si ‘korban’ yang harus sekuat tenaga meyakini bahwa sarana temannya ini cukup aplikatif dan mujarab? :/
Coba saya membayangkan sejenak, menempatkan diri saya di posisinya, dan mencoba menguak lagi problema lama saya yang mungkin se-level atau bahkan sama kasusnya. Taruhlah si teman habis patah hati, diputusin atau ditinggal pergi sama orang yang paling dia sayang lah. Tidak melulu perkara pacar lho ini tapi lebih kepada sebuah rasa ditinggalkan dan kehilangan, bisa saja dari keluarga atau teman atau saudara.
Bagaimana kah sebuah rasa kehilangan/ditinggalkan itu kemudian hinggap? Pertama-tama mungkin menurut pengalaman empirik sih, semacam terbentuknya lubang tak kasat mata di dalam hati, dada ini seolah ditekan beban yang berat namun tak nampak yang kemudian bikin saya mau bernafas saja susaaaah sekali. Menangis? oh tunggu dulu, kalau persoalan airmata tidak bisa dipukul rata. Karena kadar ketebalan dinding tandon airmata tiap orang berbeda. Saya pun tidak melulu mengurai airmata ketika sedih/kehilangan/ditinggalkan tapi yang pasti dirasakan ya perkara ‘lubang besar’ dalam hati itu tadi. Katakanlah saya di persoalan ini tidak mengurai airmata (yah meskipun untuk persoalan yang lebih remeh dari ini pun saya lebih cengeng. hehe ), namu perasaan serupa mungkin juga dirasakan si teman tersebut. Oke, i got the one same point here: a heart matter.
Apa yang dirasakan hati saya, hati teman saya dan mungkin juga hati-hati orang selain kami, itulah saat dimana sebuah rasa mulai membentuk makna dan efek yang berbeda-beda. Ketika gelombang “lubang besar’ datang dan menerpa, mungkin sebagian saya belum merasakan apa-apa, cuma sesak saja. Tapi bagi sebagian orang lain, bisa jadi sudah nangis tanpa henti seharian sampai mata bengkak. Who really know how deepest our heart is?
Kira-kira, saya ingin menyatakan bahwa berhati-hatilah ketika mengatakan rasa simpatik dengan sederatan kalimat ini: “sabar ya, aku tau perasaanmu.”; “tenang, aku tau apa yang kamu rasakan, kok” — are you sure you exactly know it all? Tidak menjamin. taruh lah kita sama-sama pernah menghadapi peristiwa serupa namun tokh tetap saja berbeda, kan? Tokoh, tempat, waktu, suasana saja sudah berbeda apalagi ini perkara perasaan. Don’t be too wise or you will look more cruel with your own words. :p agak jahat juga sebenarnya ngomong macem begini tapi that’s the truth. Tidak ada masalah yang benar-benar sama antara sesama manusia. Kalau pun ada yang sama persis, itulah kebetulan. :p Tapi sejatinya, setiap orang punya ‘bingkai’nya sendiri dalam masalah yang hadir.
Memaknai sebuah rasa kehilangan/kesedihan, memang ada banyak cara. Umum-nya paling juga pasang muka sedih, setel lagu-lagu menyayat hati dan urai-lah airmata sederas mungkin. Atau bisa juga tidak melakukan ‘pakem’ yang ada tapi justru melawan dengan senyuman, optimis dan kembali bangkit melangkah ke depan. Taaaapii ya, semuanya ga segampang kata Mario Teguh lho ya.
Everything takes time, dan terkadang durasi mempengaruhi performa seseorang di kemudian hari. Makin lama waktu untuk bangkit maka makin kelihatan susah maju, kaya’nya hidupnya cuma stuck disitu-situ aja. Terkadang, orang semacam ini (ya mungkin semacam saya juga kali ya? hehe) seperti meratapi kedukaan, mencoba mencari dimana yang salah/ siapa yang salah, menghitung-hitung ulang jumlah ‘kehilangan’nya dan tetap yakin bahwa semua ini pasti sedikit banyak disebabkan oleh kesalahan yang dia perbuat. Hmm, bisa jadi tapi bukan satu harga mati. Terkadang hanya ingin me-rewind kejadian karena (mungkin) ada satu waktu yang sebenarnya disitulah letak masalah sebenarnya; pengulangan akan sesuatu yang sudah diketahui salahnya dimana.
So, which one would you take for healing the problems? diam, merenungi, me-rewind kejadian dan menerka-nerka apakah bisa saya perbaiki seperti sedia kala? *saya jawab saja: tidak juga dan tidak usah begitu juga, kali.*Atau kah mencoba memikirkan solusinya saja tanpa harus me-rewind kejadiannya dan ambil poin penting saja? Kadang, kita hanya mau menyimpan kejadian-kejadian ‘baik dan indah’ saja sebagai obat ketika kejadian buruk menimpa. Namun, justru sebenarnya ‘good memories’ itulah pembunuh paling kejam; ia membunuh perlahan hingga kita tidak sadar telah terbunuh. Hasilnya? ya jadi susah move-on itu tadi karena bayangannya nanti kan masih ada hal baik seperti yang diutarakan si ‘good memories’ itu. Susah kan? Lalu gimana dong enaknya? Masa iya kita tidak boleh menyimpan kenangan apapun, baik pahit maupun manis? Menyimpan itu konotasinya ‘menaruh dalam jangka waktu yang lama’, ya jelas tidak baik lah untuk kita. Bagaimana kalo meminjam? Meminjam kenangan-kenangan sejenak, lalu kembalikan ke tempat semula; masa lalu. Caranya? selalu ingatlah kita punya hari ini, hari nanti dan hari esok untuk direncanakan, dijalani dan ditempatkan pada tempat yang semestinya. Yah, kira-kira seperti itulah. Dan pastikan hidup ini setidaknya berbeda dari detik ke detiknya.
Sound so simple, don’t ya?
#listening to: Andre Harihandoyo and Sonic People – The Break Up